oleh

Nenek Moyang Orang Betwi itu Orang Maluku?.

-Opini-9 Dilihat

AMBON, BABETO.ID – Tragedi yang terjadi di Jalan Tambak, Matraman, Jakarta Pusat, pada Minggu, 26 Juli 2026, bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga Paskalis Horokubun, pemuda asal Desa Sathean, Kei Kecil, Maluku Tenggara, tetapi juga menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana masyarakat menyikapi sebuah peristiwa pidana.

Di tengah proses hukum yang sedang berjalan dan penetapan sejumlah tersangka oleh kepolisian, media sosial justru dipenuhi narasi yang mengarah pada sentimen suku.

Muncul berbagai kalimat yang menyudutkan orang Ambon maupun orang Betawi. Menurut saya, narasi seperti ini jauh lebih berbahaya daripada peristiwa itu sendiri, karena berpotensi memecah persaudaraan yang telah dibangun selama ratusan tahun.

Peristiwa di Matraman tidak boleh digiring menjadi konflik antarsuku. Ini adalah dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh individu dan harus dipertanggungjawabkan secara hukum oleh para pelakunya. Menyalahkan satu kelompok etnis atas tindakan segelintir orang adalah bentuk generalisasi yang tidak adil.

Sejarah justru memperlihatkan bahwa Jakarta sejak awal merupakan kota yang dibangun oleh masyarakat dari berbagai daerah. Setelah VOC merebut Jayakarta pada 1619 dan mendirikan Batavia, kota itu berkembang menjadi pusat perdagangan yang dihuni oleh orang Sunda, Jawa, Melayu, Bugis, Makassar, Bali, Banda, Ambon, Tionghoa, Arab, India, hingga masyarakat dari berbagai wilayah lain di Nusantara dan mancanegara.

Para sejarawan menjelaskan bahwa identitas Betawi lahir dari proses percampuran berbagai kelompok masyarakat tersebut selama berabad-abad.

Oleh karena itu, masyarakat Betawi merupakan etnis yang memiliki akar multikultural. Di dalam sejarah pembentukannya terdapat kontribusi banyak suku, termasuk masyarakat Maluku.

Bagi saya, inilah alasan mengapa narasi yang mempertentangkan orang Betawi dengan orang Maluku terasa tidak masuk akal. Keduanya memiliki hubungan sejarah yang panjang.

Sejarah juga mencatat bahwa setelah penaklukan Kepulauan Banda pada 1621, ribuan orang Banda menjadi korban pembantaian, sementara banyak yang ditawan dan dipindahkan ke Batavia sebagai tenaga kerja paksa maupun budak. Kehadiran mereka menjadi bagian dari sejarah awal kota Batavia.

Demikian pula dengan masyarakat Ambon dan wilayah Maluku lainnya. Pada masa VOC, banyak orang Maluku direkrut sebagai serdadu, pekerja, maupun pelaut.

Sebagian menetap di Batavia dan membentuk komunitas yang kemudian dikenal melalui nama-nama kawasan seperti Kampung Ambon.

Nama Kampung Bandan juga menjadi pengingat keberadaan masyarakat asal Banda yang telah lama hidup di Batavia.

Jejak sejarah tersebut menunjukkan bahwa orang Maluku bukanlah kelompok yang baru mengenal Jakarta. Mereka telah menjadi bagian dari perjalanan kota ini sejak masa kolonial.

Namun demikian, saya juga berpandangan bahwa tidak tepat apabila menyimpulkan bahwa seluruh nenek moyang orang Betawi berasal dari Maluku.

Yang lebih tepat adalah bahwa masyarakat Betawi merupakan hasil percampuran berbagai etnis, dan masyarakat Maluku adalah salah satu unsur penting dalam proses tersebut.

Saya melihat, persoalan yang terjadi hari ini bukan lagi soal sejarah, melainkan bagaimana sejarah sering kali dilupakan ketika emosi menguasai ruang publik.

Sedikit saja terjadi konflik, maka identitas suku langsung dijadikan sasaran. Padahal, yang bersalah adalah pelaku, bukan etnisnya.

Politik pecah belah atau divide et impera yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda pernah membuat masyarakat Nusantara saling curiga.

Kolonial memisahkan komunitas berdasarkan asal-usul, membentuk permukiman-permukiman tertentu, dan menciptakan jarak sosial agar masyarakat tidak mudah bersatu melawan penjajah.

Menurut saya, pola pikir seperti itu tidak boleh diwariskan kepada generasi sekarang. Indonesia merdeka justru karena berbagai suku memilih bersatu, bukan karena mempertahankan sekat identitas.

Saya percaya, masyarakat Betawi tidak dapat diwakili oleh tindakan segelintir pelaku dalam sebuah kasus pidana. Demikian pula masyarakat Maluku tidak boleh dicap hanya karena berasal dari daerah tertentu.

Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di depan hukum dan berhak mendapatkan perlindungan yang sama.

Kepergian Paskalis Horokubun hendaknya menjadi pengingat bahwa nyawa manusia jauh lebih berharga daripada ego kelompok. Duka keluarganya adalah duka kita semua sebagai bangsa Indonesia.

Sudah saatnya masyarakat menghentikan penyebaran ujaran kebencian, fitnah, maupun provokasi yang mengatasnamakan suku.

Yang dibutuhkan saat ini adalah penghormatan terhadap proses hukum, penghargaan terhadap nilai kemanusiaan, dan kesadaran bahwa bangsa ini dibangun oleh keberagaman.

Pada akhirnya, saya meyakini bahwa orang Betawi dan orang Maluku bukanlah musuh. Keduanya memiliki ikatan sejarah yang panjang dalam perjalanan Batavia hingga menjadi Jakarta. Perbedaan asal-usul bukan alasan untuk saling membenci, melainkan kekayaan yang harus dijaga.

Mari melawan provokasi dengan pengetahuan, melawan kebencian dengan persaudaraan, dan melawan fitnah dengan sejarah yang utuh. Karena pada akhirnya, kita semua adalah Indonesia. Kita semua adalah basudara.***

Oleh : Rimbo Bugis (Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Maluku)

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *