Oleh : Irpan Kastela (Dirut. Saudagar Muda Muhammadiyah Maluku)
AMBON, BABETO.ID – Di tengah semakin tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pangan, Maluku sesungguhnya memiliki kekayaan alam yang dapat menjadi kekuatan untuk membangun kemandirian pangan. Salah satunya adalah sukun yang tumbuh subur di Negeri Tengah-Tengah, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah.
Sukun Tengah-Tengah bukan sekadar buah yang dikonsumsi masyarakat. Tanaman ini merupakan bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus potensi ekonomi yang jika dikelola secara serius dapat memberikan nilai tambah bagi keluarga dan daerah.

Keunikan sukun dari Negeri Tengah-Tengah juga menjadi cerita tersendiri. Tanaman pangan tersebut mampu tumbuh di lingkungan yang sebagian wilayahnya berbatu dan memiliki struktur tanah yang tidak selalu mudah untuk kegiatan pertanian.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keterbatasan alam bukan alasan untuk berhenti mengembangkan pangan lokal.

Sukun dapat menjadi salah satu jawaban atas persoalan ketahanan pangan di Maluku. Selama ini, sebagian kebutuhan pangan masyarakat masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Ketergantungan tersebut tentu membuat daerah rentan terhadap kenaikan harga, gangguan distribusi dan berbagai persoalan transportasi antarpulau.

Karena itu, mengembangkan tanaman pangan yang tersedia di daerah sendiri harus menjadi bagian dari strategi pembangunan Maluku.
Sukun memiliki keunggulan karena dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan. Buahnya dapat direbus, digoreng, dipanggang, dibuat keripik, tepung hingga berbagai produk olahan lainnya.
Di sinilah persoalan sekaligus peluangnya. Jangan sampai sukun hanya dipandang sebagai makanan tradisional yang dikonsumsi ketika tersedia. Sukun harus ditempatkan sebagai komoditas pangan yang memiliki nilai ekonomi.

Jika pengolahan dilakukan secara serius, buah sukun dapat menghasilkan produk dengan nilai jual lebih tinggi. Keripik sukun, tepung sukun dan berbagai makanan olahan dapat dikembangkan menjadi produk usaha masyarakat.
Bahkan, bukan tidak mungkin suatu saat sukun Tengah-Tengah memiliki merek dan kemasan sendiri sehingga dapat dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.
Pemerintah memiliki peran penting dalam proses tersebut. Petani dan masyarakat tidak cukup hanya diberikan bantuan bibit. Mereka juga membutuhkan pendampingan mengenai budidaya, pengolahan, pengemasan, pemasaran hingga akses permodalan.
Perguruan tinggi dan pelaku usaha juga dapat dilibatkan untuk melakukan penelitian mengenai pengembangan produk berbahan dasar sukun.
Hal yang tidak kalah penting adalah membangun kebanggaan masyarakat terhadap pangan lokal. Anak-anak muda Maluku perlu melihat bahwa bertani dan mengembangkan pangan lokal bukan pekerjaan yang harus ditinggalkan.
Justru sektor tersebut dapat menjadi ruang usaha baru jika dikelola dengan pendekatan modern.
Negeri Tengah-Tengah memiliki kesempatan untuk menjadi salah satu contoh bagaimana pangan lokal dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Sukun tidak hanya ditanam, tetapi harus dipikirkan dari hulu hingga hilir.
Artinya, mulai dari pembibitan, penanaman, perawatan, panen, pengolahan, pengemasan sampai pemasaran harus berada dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Jika hal tersebut dapat dilakukan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh petani. Pelaku usaha kecil, perempuan, pemuda, pedagang dan masyarakat lainnya juga dapat memperoleh peluang ekonomi dari berkembangnya industri olahan sukun.
Di tengah program diversifikasi pangan nasional, Maluku seharusnya tidak hanya menjadi konsumen. Maluku memiliki bahan pangan lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk unggulan daerah.
Sukun Tengah-Tengah adalah salah satu contoh nyata.
Sudah saatnya pangan lokal tidak lagi diposisikan sebagai makanan kelas dua. Sukun, sagu, ubi, pisang dan berbagai pangan lokal Maluku lainnya harus mendapatkan tempat yang lebih besar dalam kebijakan pembangunan daerah.
Sebab, ketahanan pangan tidak hanya berbicara tentang seberapa banyak makanan tersedia. Ketahanan pangan juga berbicara tentang kemampuan masyarakat memproduksi makanan dari kekayaan alam sendiri.
Karena itu, sukun Negeri Tengah-Tengah layak mendapat perhatian lebih besar. Bukan hanya karena rasanya, bukan hanya karena sejarahnya, tetapi karena di balik satu buah sukun terdapat harapan tentang kemandirian pangan dan masa depan ekonomi masyarakat.
Jika dikelola dengan serius, dari Negeri Tengah-Tengah bisa lahir cerita besar: bahwa pangan lokal Maluku mampu menjadi sumber kesejahteraan masyarakat.
Sukun bukan sekadar buah.
Sukun adalah potensi.
Dan potensi tersebut akan menjadi kekuatan apabila masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan generasi muda bersama-sama mengembangkannya.***








Komentar