AMBON, BABETO.ID – Gereja Tua Immanuel Hila di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, merupakan salah satu bangunan gereja tertua dan bersejarah di Maluku. Bangunan ini tidak hanya memiliki nilai penting dalam perjalanan sejarah kekristenan di Maluku, tetapi juga menjadi saksi perjumpaan berbagai bangsa, budaya dan agama di Kepulauan Maluku.
Gereja tersebut tercatat sebagai Gereja Tua Hila-Imanuel dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat Provinsi Maluku melalui Surat Keputusan Nomor 291 Tahun 2009. Data resmi Direktorat Pelindungan Kebudayaan menyebut gereja ini berada di wilayah Negeri Hila dan berdekatan dengan Benteng Amsterdam.
Berawal dari Santo Jacobus

Sejarah Gereja Tua Immanuel memiliki perjalanan panjang. Berdasarkan data resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, bangunan tersebut pertama kali didirikan oleh bangsa Portugis pada tahun 1514 dengan nama Santo Jacobus dan pada awalnya merupakan gereja Katolik.
Pembangunan gereja tersebut berkaitan erat dengan kehadiran Portugis di Maluku pada masa perdagangan rempah-rempah. Keberadaannya kemudian menjadi bagian dari sejarah panjang perkembangan agama Kristen di wilayah Maluku.
Pada tahun 1605, kekuasaan Portugis di Maluku beralih kepada Belanda. Gereja yang sebelumnya berupa bangunan kayu kemudian diperbesar oleh Belanda. Meski mengalami perubahan bangunan, nama Santo Jacobus tetap digunakan dalam periode tersebut.
Sejumlah sumber juga mencatat tahun 1659 dalam sejarah bangunan Gereja Immanuel Hila. Karena itu, angka 1514 dan 1659 kerap muncul dalam berbagai catatan sejarah. Tahun 1514 merujuk pada awal keberadaan kapel Santo Jacobus, sementara 1659 disebut dalam sejumlah sumber sebagai periode pembangunan atau penguatan bangunan gereja pada masa Belanda.
Berganti Nama Menjadi Immanuel
Perubahan penting terjadi sekitar tahun 1780, ketika Bernardus van Plueren menjadi Gubernur Jenderal Belanda untuk Maluku.
Pada masa tersebut, nama gereja kemudian diubah menjadi Immanuel dan bangunan tersebut beralih menjadi gereja Protestan. Nama Immanuel kemudian melekat hingga sekarang.
Dengan sejarah yang membentang sejak awal abad ke-16, Gereja Tua Immanuel Hila menjadi salah satu peninggalan penting yang menggambarkan perjalanan panjang Maluku sebagai wilayah yang sejak dahulu menjadi titik pertemuan berbagai bangsa dan keyakinan.
Berada di Dekat Benteng Amsterdam
Gereja Tua Immanuel memiliki lokasi yang sangat dekat dengan Benteng Amsterdam, salah satu peninggalan kolonial penting di Negeri Hila.
Kedekatan kedua bangunan tersebut membuat kawasan Hila memiliki nilai sejarah yang kuat. Benteng Amsterdam sendiri berada di Desa Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, sementara Gereja Tua Immanuel berada di sisi selatan kawasan benteng.
Kawasan ini kemudian menjadi salah satu tujuan wisata sejarah dan budaya di Maluku. Pengunjung yang datang ke Benteng Amsterdam biasanya dapat melanjutkan perjalanan untuk melihat Gereja Tua Immanuel serta sejumlah peninggalan sejarah lain di sekitar Hila dan Kaitetu.
Berdiri di Tengah Masyarakat Muslim
Salah satu hal yang membuat Gereja Tua Immanuel semakin menarik adalah keberadaannya di lingkungan masyarakat yang mayoritas beragama Islam.
Kondisi tersebut menjadikan gereja ini bukan hanya sebagai peninggalan sejarah keagamaan, tetapi juga sering dipandang sebagai simbol toleransi antarumat beragama di Maluku.
RRI melaporkan bahwa masyarakat Hila turut menjaga keberadaan gereja tersebut. Bahkan, ketika bagian gereja mengalami kerusakan, warga setempat ikut membantu melakukan perbaikan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan rumah ibadah bersejarah dapat menjadi bagian dari kehidupan bersama masyarakat, terlepas dari perbedaan keyakinan.
Pernah Terdampak Konflik Maluku
Perjalanan Gereja Tua Immanuel tidak selalu berjalan mulus. Bangunan ini juga mengalami dampak konflik sosial Maluku pada 1999.
Setelah warga Hila Kristen mengungsi, gereja tidak lagi digunakan secara rutin seperti sebelumnya. Meski demikian, bangunan bersejarah tersebut tetap dipertahankan dan dirawat sebagai bagian dari warisan sejarah.
Dalam perkembangannya, upaya pelestarian kembali dilakukan. Pada 2025 hingga awal 2026, proses renovasi dan pemeliharaan dilakukan untuk menjaga kondisi bangunan agar tetap dapat dinikmati masyarakat dan generasi mendatang. RRI melaporkan bahwa setelah mendapat perhatian Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX Maluku, kondisi gereja kembali terlihat lebih baik.
Berdampingan dengan Masjid Tua Wapauwe
Keunikan lain kawasan Hila dan Kaitetu adalah keberadaan situs sejarah Islam dan Kristen yang relatif berdekatan.
Gereja Tua Immanuel berada tidak jauh dari Masjid Tua Wapauwe, yang juga merupakan salah satu masjid bersejarah di Maluku. Kedua bangunan tersebut menjadi bagian penting dari kekayaan sejarah dan budaya kawasan Leihitu.
Kedekatan gereja dan masjid tersebut kerap menjadi gambaran tentang hubungan sosial masyarakat Maluku yang memiliki tradisi hidup berdampingan lintas agama.
Karena nilai sejarah dan budayanya, kawasan tersebut juga memiliki potensi besar sebagai tujuan wisata religi, sejarah dan budaya.
Menjadi Cagar Budaya
Pemerintah telah menetapkan Gereja Tua Hila-Imanuel sebagai cagar budaya tingkat Provinsi Maluku melalui SK Nomor 291 Tahun 2009. Penetapan tersebut memperkuat kedudukan gereja sebagai bangunan yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang harus dilindungi.
Selain menjadi tempat yang memiliki nilai religius, bangunan tersebut kini menjadi bagian dari warisan sejarah Maluku. Keberadaannya mengingatkan generasi sekarang tentang panjangnya perjalanan masyarakat Maluku sejak masa perdagangan rempah-rempah hingga perkembangan kehidupan sosial dan keagamaan saat ini.
Gereja Tua Immanuel Hila juga menjadi bukti bahwa sejarah Maluku tidak hanya tersimpan dalam buku, tetapi masih dapat ditemukan melalui bangunan-bangunan tua yang berdiri hingga sekarang.
Dengan usianya yang telah melewati ratusan tahun, Gereja Tua Immanuel Hila layak dipandang sebagai salah satu ikon sejarah Maluku. Bukan hanya karena usia bangunannya, tetapi karena di dalamnya tersimpan cerita tentang Portugis, Belanda, perkembangan agama Kristen, perdagangan rempah-rempah, perubahan sosial hingga semangat toleransi masyarakat Maluku.
Di tengah perkembangan zaman, keberadaan gereja tua tersebut menjadi pengingat bahwa warisan sejarah harus dijaga bersama. Gereja Tua Immanuel Hila bukan sekadar bangunan lama, melainkan bagian dari identitas dan perjalanan panjang sejarah Maluku.***








Komentar