Oleh: Penulis Rian Abdullah (Ketua Tita Nusa Pemuda)
MALUKU, BABETO.ID – Agustus bukan sekadar bulan upacara, bendera dan pidato-pidato kemerdekaan. Agustus adalah bulan ketika bangsa dan daerah kembali mengingat perjalanan panjang tentang perjuangan, pengabdian dan kesetiaan kepada negeri.
17 Agustus 1945 menjadi tonggak kemerdekaan Republik Indonesia. 19 Agustus menjadi bagian dari perjalanan sejarah Maluku yang kini memasuki usia 81 tahun. Dan 28 Agustus 2026 menjadi momentum personal ketika Sekretaris Daerah Maluku, Ir. Sadali Ie., M.Si.IPU, genap berusia 58 tahun.
Tiga momentum. Tiga catatan perjalanan. Tetapi satu nilai yang mempertemukannya: pengabdian.
Kemerdekaan lahir dari perjuangan. Maluku tumbuh melalui perjalanan panjang. Pemerintahan berjalan karena ada orang-orang yang memilih untuk bekerja, melayani dan menjaga tanggung jawabnya.
Dalam konteks itulah perjalanan Sadali Ie menjadi bagian dari cerita panjang birokrasi Maluku.
Sebagai Sekretaris Daerah, Sadali berada pada posisi strategis dalam memastikan roda pemerintahan tetap berjalan. Ia menjadi bagian penting dalam koordinasi antara pimpinan daerah dan perangkat birokrasi.
Pekerjaan Sekda bukan pekerjaan yang selalu terlihat di depan kamera. Banyak hal berlangsung di balik meja, dalam rapat, koordinasi, komunikasi dan pelayanan pemerintahan.
Di ruang itulah pengalaman birokrasi menemukan maknanya.
Sekda bukan sekadar jabatan.
Sekda adalah tanggung jawab.
Karena itu, kebiasaan melayani menjadi bagian yang melekat dalam perjalanan seorang birokrat. Melayani pimpinan, melayani birokrasi dan pada akhirnya melayani kepentingan masyarakat.
Loyalitas pun menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.
Loyalitas bukan sekadar berada di samping seorang pimpinan ketika keadaan berjalan baik. Loyalitas adalah kemampuan menjaga amanah, menjalankan tugas dan tetap berdiri pada tanggung jawab ketika pemerintahan menghadapi berbagai dinamika.
Sadali Ie telah melewati berbagai fase dalam pemerintahan Maluku. Ia pernah memimpin perangkat daerah, dipercaya sebagai Sekretaris Daerah, mendapat amanah sebagai Penjabat Gubernur, dan kemudian kembali menjalankan tugas sebagai Sekretaris Daerah.
Perjalanan tersebut memperlihatkan panjangnya pengalaman yang dimiliki dalam memahami birokrasi dan pemerintahan Maluku.
Dari satu jabatan ke jabatan lainnya, ada proses panjang yang membentuk pengalaman, kedewasaan dan kemampuan membaca dinamika pemerintahan.
Namun pengabdian Sadali Ie tidak hanya berlangsung dalam ruang pemerintahan.
Di tengah kesibukannya sebagai birokrat, ia juga aktif dalam kehidupan organisasi kemasyarakatan. Keterlibatannya dalam Muhammadiyah, Dewan Masjid Indonesia dan organisasi alumni Universitas Pattimura menunjukkan adanya ruang pengabdian yang lebih luas di luar tugas kedinasan.
Organisasi menjadi ruang untuk membangun komunikasi.
Menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan.
Dan menjadi ruang untuk terus hadir di tengah masyarakat.
Di situlah seorang birokrat tidak hanya berbicara tentang pemerintahan, tetapi juga tentang kehidupan sosial dan kemasyarakatan.
Usia 58 tahun bukan sekadar angka.
Ia adalah perjalanan waktu yang telah membawa seseorang melewati berbagai pengalaman.
Ada tugas yang telah dijalankan. Ada tanggung jawab yang telah dipikul. Ada pertemuan dengan banyak orang. Ada berbagai fase pemerintahan yang telah dilewati.
Dan semua itu menjadi bagian dari perjalanan hidup seorang Sadali Ie.
Agustus tahun ini menjadi semakin bermakna karena tiga momentum bertemu dalam satu bulan.
Indonesia memperingati kemerdekaannya.
Maluku memperingati perjalanan usianya.
Dan Sadali Ie memperingati 58 tahun perjalanan kehidupannya.
Ketiganya membawa pesan yang sama: waktu akan terus berjalan, tetapi pengabdian meninggalkan jejak.
Seorang pejabat mungkin berpindah jabatan.
Sebuah pemerintahan mungkin berganti kepemimpinan.
Tetapi nilai pengabdian akan tetap dikenang ketika dijalankan dengan ketulusan, loyalitas dan tanggung jawab.
Sadali Ie telah melewati perjalanan panjang dalam birokrasi Maluku. Dari pengalaman tersebut, ada satu nilai yang terus menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya: kesetiaan terhadap tugas dan pelayanan.
Maka 58 tahun bukan hanya momentum untuk mengucapkan selamat ulang tahun.
Ini adalah momentum untuk menghormati perjalanan seorang putra daerah yang telah menghabiskan bagian penting hidupnya dalam pengabdian kepada pemerintahan dan masyarakat.
Di bulan ketika Indonesia merayakan kemerdekaan dan Maluku memperingati perjalanan sejarahnya, usia 58 tahun Sadali Ie menjadi catatan tersendiri.
Sebab pada akhirnya, jabatan akan berganti.
Kursi akan berpindah.
Tetapi pengabdian akan tetap menjadi bagian dari sejarah perjalanan seseorang.
Selamat ulang tahun ke-58, Sadali Ie.
Semoga usia yang semakin matang menjadi sumber kekuatan untuk terus mengabdi, melayani dan memberikan yang terbaik bagi Maluku.
Karena Agustus bukan hanya tentang mengenang sejarah.
Agustus juga tentang menghormati mereka yang menghabiskan hidupnya untuk mengabdi.
Dan secara pribadi, Agustus juga memiliki makna tersendiri bagi penulis. Penulis pun lahir di bulan yang sama dan bulan yang selalu mengingatkan kita pada kemerdekaan, perjalanan sejarah, dan arti sebuah pengabdian.
Mungkin itu pula yang membuat Agustus terasa berbeda. Ada sejarah bangsa yang dikenang, ada perjalanan daerah yang dirayakan, dan ada perjalanan manusia yang patut dihargai.








Komentar