oleh

Gereja Tua Immanuel Hila, Jejak Sejarah dan Simbol Kekristenan di Maluku

AMBON, BABETO.ID – Maluku tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah, tetapi juga memiliki banyak peninggalan sejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang masyarakatnya. Salah satu peninggalan tersebut adalah Gereja Tua Immanuel yang berada di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.

Gereja Tua Immanuel Hila merupakan salah satu bangunan gereja bersejarah di Maluku. Bangunan ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan berkaitan erat dengan kehadiran bangsa Portugis dan Belanda di Kepulauan Maluku.

Berdasarkan data Direktorat Pelindungan Kebudayaan, bangunan ini pertama kali didirikan oleh Portugis pada 1514 dengan nama Santo Jacobus. Pada masa awal keberadaannya, bangunan tersebut digunakan sebagai gereja Katolik.

Seiring perubahan kekuasaan di Maluku, gereja tersebut kemudian mengalami perkembangan dan perubahan. Setelah Portugis meninggalkan Maluku dan kekuasaan beralih kepada Belanda, bangunan gereja turut mengalami perubahan bentuk dan fungsi.

Dalam sejumlah catatan sejarah, tahun 1659 juga disebut dalam perjalanan pembangunan Gereja Immanuel Hila. Sementara pada sekitar 1780, gereja tersebut kemudian menggunakan nama Immanuel dan menjadi gereja Protestan.

Perjalanan panjang tersebut membuat Gereja Tua Immanuel tidak hanya memiliki nilai keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah kolonial dan perkembangan masyarakat Maluku.

Berdekatan dengan Benteng Amsterdam

Doc. Mesjid Tertua di Maluku

Gereja Tua Immanuel berada di kawasan yang memiliki banyak peninggalan sejarah. Salah satunya adalah Benteng Amsterdam yang terletak di Negeri Hila.

Keberadaan gereja dan benteng dalam satu kawasan memperlihatkan pentingnya Hila dalam sejarah Maluku pada masa lalu. Kawasan tersebut menjadi salah satu lokasi yang menyimpan jejak masa perdagangan rempah-rempah dan hubungan antara masyarakat lokal dengan bangsa-bangsa Eropa.

Karena nilai sejarahnya, kawasan Hila memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya.

Simbol Kehidupan Berdampingan

Hal menarik lainnya dari Gereja Tua Immanuel adalah keberadaannya di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang agama yang beragam.

Tidak jauh dari kawasan tersebut terdapat Masjid Tua Wapauwe, salah satu masjid bersejarah di Maluku. Keberadaan rumah ibadah bersejarah dari dua tradisi keagamaan tersebut menjadi bagian dari wajah sosial masyarakat Maluku.

Gereja dan masjid yang berada dalam satu kawasan sejarah memberikan gambaran mengenai hubungan masyarakat yang hidup berdampingan.

Nilai tersebut menjadi semakin penting karena toleransi dan persaudaraan merupakan bagian dari identitas sosial masyarakat Maluku.

Pernah Mengalami Masa Sulit

Seperti banyak peninggalan sejarah lainnya di Maluku, Gereja Tua Immanuel juga pernah mengalami masa sulit akibat konflik sosial yang terjadi pada 1999.

Peristiwa tersebut membuat aktivitas jemaat di gereja mengalami perubahan. Namun, keberadaan bangunan bersejarah itu tetap dipertahankan.

Masyarakat dan berbagai pihak kemudian memberikan perhatian terhadap kondisi bangunan. Upaya perawatan dan renovasi dilakukan agar gereja tetap berdiri dan dapat menjadi bagian dari warisan sejarah bagi generasi berikutnya.

Ditetapkan sebagai Cagar Budaya

Gereja Tua Hila-Imanuel telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat Provinsi Maluku melalui Surat Keputusan Nomor 291 Tahun 2009.

Status tersebut menunjukkan bahwa bangunan ini memiliki nilai penting yang harus dilindungi. Pelestarian bukan hanya berkaitan dengan bangunan fisiknya, tetapi juga dengan sejarah, cerita masyarakat dan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Dengan usia yang telah mencapai ratusan tahun, Gereja Tua Immanuel menjadi salah satu peninggalan yang penting bagi Maluku. Bangunan tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah daerah ini memiliki perjalanan panjang yang melibatkan berbagai bangsa, agama dan kebudayaan.

Warisan untuk Generasi Mendatang

Gereja Tua Immanuel Hila pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah bangunan gereja yang berusia ratusan tahun. Di balik dinding dan struktur bangunannya terdapat cerita mengenai perjalanan Maluku dari masa perdagangan rempah-rempah, kedatangan bangsa Eropa, perkembangan agama Kristen hingga dinamika kehidupan masyarakat modern.

Karena itu, keberadaan gereja tua tersebut perlu terus dirawat dan diperkenalkan kepada generasi muda.

Pelestarian situs sejarah seperti Gereja Tua Immanuel juga dapat menjadi bagian dari pengembangan wisata sejarah dan budaya di Maluku.

Jika dikelola dengan baik, kawasan Hila dapat menjadi ruang edukasi bagi masyarakat sekaligus destinasi yang memperkenalkan sejarah Maluku kepada wisatawan.

Gereja Tua Immanuel Hila merupakan salah satu bukti bahwa kekayaan Maluku tidak hanya tersimpan di laut dan rempah-rempahnya, tetapi juga pada bangunan-bangunan bersejarah yang masih berdiri hingga kini.

Di tengah perubahan zaman, gereja tersebut tetap menjadi pengingat tentang perjalanan panjang masyarakat Maluku serta pentingnya menjaga warisan sejarah dan semangat hidup berdampingan.***

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *