oleh

Kuliah untuk Menjadi Budak di Negeri Sendiri

-Opini-43 Dilihat

Oleh: Rimbo Bugis

AMBON, BABETO.ID – Banyak orang setelah menyelesaikan kuliah hanya berpikir bagaimana bisa cepat mendapatkan pekerjaan, bahkan bekerja di bawah orang lain sekalipun. Mereka berlomba-lomba mencari lowongan pekerjaan di perusahaan milik orang lain, termasuk mengintip peluang kerja yang tersedia di tengah masuknya tenaga kerja asing, termasuk di Blok Masela, Maluku.

Namun, di tengah persaingan tersebut, tidak banyak yang berpikir untuk menciptakan pekerjaan sendiri. Kuliah seolah-olah hanya diarahkan untuk mendapatkan ijazah, kemudian ijazah itu digunakan untuk mencari siapa yang bersedia mempekerjakan mereka.

Mungkin yang ada dalam pikiran sebagian orang adalah mendapatkan gaji yang tinggi dan status sosial sebagai orang yang sudah memiliki pekerjaan. Tidak ada yang salah dengan keinginan tersebut.

Menjadi pekerja juga merupakan pilihan yang sah dan pekerjaan adalah bagian penting dari kehidupan. Tetapi, tanpa disadari, dalam kondisi tertentu, kehidupan sebagai pekerja dapat membuat seseorang sangat bergantung kepada pihak yang memberikan pekerjaan.

Dari sinilah muncul sebuah pertanyaan untuk direnungkan: apa bedanya pekerja dengan budak pada masa lalu jika dilihat dari sisi ketergantungan terhadap orang yang menguasai pekerjaan dan sumber penghasilan?

Tentu, pekerja zaman sekarang tidak sama dengan budak pada masa lalu. Pekerja memiliki hak, menerima upah, memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan, dan dilindungi oleh aturan ketenagakerjaan.

Sementara budak pada masa lalu tidak memiliki kebebasan sebagaimana manusia merdeka dan dipaksa bekerja untuk tuannya.

Namun, jika dilihat dari sisi hubungan ekonomi, terdapat satu hal yang dapat menjadi bahan renungan. Seorang pekerja memberikan tenaga, waktu, pikiran, dan keterampilannya kepada pemilik usaha untuk mendapatkan upah. Sementara pemilik usaha menggunakan tenaga tersebut untuk menjalankan usaha dan memperoleh keuntungan.

Pada masa lalu, seorang budak dipaksa memberikan tenaganya kepada tuannya. Pekerja modern memang tidak selalu mengalami paksaan secara fisik.

Akan tetapi, dalam kehidupan ekonomi, seseorang dapat berada dalam ketergantungan yang sangat kuat kepada pekerjaan yang diberikan oleh perusahaan atau pemilik modal.

Ketika pekerjaan hilang, penghasilan pun ikut hilang. Ketika perusahaan tidak lagi membutuhkan tenaga seorang pekerja, maka sumber pendapatannya dapat terputus.

Dalam kondisi seperti itu, seseorang mungkin memiliki kebebasan secara hukum, tetapi secara ekonomi masih sangat bergantung kepada pihak lain.

Karena itu, persoalan ini perlu dilihat lebih jauh. Ketika anak muda setelah kuliah hanya berpikir bagaimana mendapatkan pekerjaan, kita perlu bertanya kembali: apakah tujuan pendidikan hanya untuk membuat seseorang menjadi pekerja?

Fenomena yang terjadi sekarang, banyak anak muda setelah menyelesaikan kuliah berbondong-bondong mencari pekerjaan. Mereka mengirim lamaran dari satu perusahaan ke perusahaan lain, berharap ada yang menerima mereka sebagai karyawan.

Mereka menghabiskan bertahun-tahun di bangku kuliah untuk memperoleh ilmu dan ijazah. Setelah lulus, mereka kemudian berlomba-lomba mencari orang yang mau mempekerjakan mereka.

Di satu sisi, mereka berharap mendapatkan gaji yang besar. Di sisi lain, tenaga, waktu, pikiran, dan keterampilan yang mereka miliki digunakan untuk menjalankan kepentingan perusahaan dan menghasilkan keuntungan bagi pemilik usaha.

Lalu, kembali muncul pertanyaan: apa bedanya kita dengan budak di masa lalu?

Perbedaannya jelas. Budak pada masa lalu tidak memiliki kebebasan dan tidak mendapatkan upah sebagaimana pekerja modern. Sementara pekerja sekarang memiliki hak dan berada dalam hubungan kerja yang diatur oleh hukum.

Tetapi dari sisi ketergantungan ekonomi, perbandingan tersebut dapat menjadi sebuah bahan renungan. Ketika seseorang sepenuhnya bergantung kepada pihak lain untuk mendapatkan penghasilan, maka ruang untuk menentukan kehidupan ekonominya sendiri menjadi semakin terbatas.

Karena itu, pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan seseorang bagaimana menjadi pekerja yang baik, tetapi juga bagaimana menciptakan pekerjaan.

Kuliah jangan hanya menjadi jalan untuk mendapatkan ijazah, lalu membawa ijazah tersebut dari satu perusahaan ke perusahaan lain untuk mencari siapa yang mau mempekerjakan kita.

Pendidikan seharusnya juga membentuk keberanian, kreativitas, keterampilan, dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang dapat menghasilkan nilai ekonomi.

Kalau semua orang hanya ingin menjadi pekerja, siapa yang akan menciptakan lapangan pekerjaan?

Kalau semua orang hanya ingin menerima gaji, siapa yang akan membangun usaha dan mempekerjakan orang lain?

Pertanyaan ini penting bagi anak muda di Maluku. Daerah ini memiliki begitu banyak potensi, mulai dari laut, perikanan, pertanian, perkebunan, pariwisata, perdagangan, ekonomi kreatif, hingga teknologi.

Potensi tersebut seharusnya tidak hanya menjadi tempat orang lain membangun usaha, sementara anak-anak daerah hanya menjadi pencari pekerjaan.

Islam sendiri mendorong manusia untuk berdagang, bertani, berkebun, dan berusaha. Artinya, manusia tidak hanya didorong untuk menunggu pemberian dari orang lain, tetapi juga berusaha dengan kemampuan yang dimilikinya.

Anak muda harus mulai berpikir bagaimana menciptakan sesuatu. Tidak harus langsung menjadi pengusaha besar.

Semuanya bisa dimulai dari usaha kecil, pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan, ekonomi kreatif, maupun usaha berbasis teknologi.

Menjadi pekerja bukanlah sesuatu yang hina. Tidak semua orang harus menjadi pengusaha, dan sebuah perusahaan juga membutuhkan pekerja.

Tetapi pendidikan jangan sampai hanya menghasilkan generasi yang pandai mencari pekerjaan tanpa memiliki keberanian untuk menciptakan pekerjaan.

Sebab, jika setelah bertahun-tahun kuliah seseorang hanya memiliki kemampuan untuk menunggu orang lain memberikan pekerjaan, maka kita perlu bertanya kembali: sejauh mana pendidikan tersebut telah membentuk kemandirian dirinya?

Lebih baik pendapatan sedikit tetapi kamu adalah bosnya, daripada mendapatkan gaji besar tetapi seluruh kehidupan ekonomimu bergantung kepada keputusan sang bos.

Sebab, kebebasan bukan hanya soal tidak dirantai secara fisik. Kebebasan juga berarti memiliki kemampuan untuk menentukan jalan hidup, mengembangkan kemampuan sendiri, menciptakan penghasilan, dan tidak sepenuhnya bergantung kepada orang lain untuk mempertahankan kehidupan ekonomi.

Pada akhirnya, kuliah seharusnya tidak hanya mengajarkan kita bagaimana mencari pekerjaan. Kuliah juga harus membuka pikiran tentang bagaimana menciptakan pekerjaan.

Sebab, negeri ini tidak hanya membutuhkan orang yang siap bekerja, tetapi juga membutuhkan orang-orang yang berani menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain.***

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *