AMBON, BABETO.ID – Warganet meminta empat siswa pelaku bullying di SMA Xaverius Ambon ditindak tegas dan diproses hukum.
Hal itu lantaran perbuatan bullying yang dilakukan sehingga membut korban inisial JK harus dilarikan ke rumah sakit Latumeten untuk mendapatkan perawatan.
Permintaan warganet ini terlihat dari unggahan Facebook Bhiken Leurima dilansir Babeto.id, Jumat, 16/10/2026.
Mereka meminta agar keempat pelaku bullying tersebut ditindak tehas dan diproses hukum agar mendapatkan efek jerah.
”Sekolah harus ambil langka tegas, ” ujar Marthih Saparue.
”Anak-anak yang bully tuh kas kaLuar donG dari skoLah tuh, pecat dari siswa SMA Xaverius, proses secara hukum karena korban sampe maso RS tuh
Jangan kas biar nanti rasa batul,” tegas Vanecia Muskitta.
”Nama 4 pelaku harus di sebut dan di proses hukum, bila perlu di keluarkan dari sekolah dan sekolah lain tidak boleh menerima mereka. Biar jadi efek jerah, ” pungkas nenny.
Sebelumnya diberitakan media ini, seorang siswa dengan inisial JK harus dilarikan ke rumah sakit buntut terkena dugaan bullying oleh empat teman (pelaku) sekolahnya di SMA Xaverius Ambon pada 8 Oktober, 2026.
Menurut keterangan keluarga korban kepada media ini, Kamis, 15/10/2026 bahwa kejadian bermula dari kesalapahaman antara JK dan empat pelaku.
Keempat pelaku tersebut, tiga diantaranya laki-laki dan satu perempuan.
Keluargan korban mengatakan, ia disuruh makan lemon bekas yang jatuh ditanah beserta kulit dan bijinya. Usai memakan lemon tersebut, korban kemudian di pukul dan ditendang hingga mengakibatkan korban mengalami pusing.
”3 pria itu datang dan membully saya pas di depan kelas saya, persoalannya cuman karena salah paham saja tetapi mereka melakukan pembully dengan cara menyuruh saya ambil lemon bekas orang yang sudah di tanah dan suru saya memakannya lapis dengan kulit dan biji sehabis makan lemon itu mereka bertiga memukul saya dari belakang leher 2 kali dan menendang saya dari lutut. Sehabis itu saya merasa pusing, “ujar Caroline Miranda selaku keluarga korban.
Saat merasa pusing, kata Caroline, korban kemudian dilarikan ke rumah sakit Sumber Hidup. Namun karena tidak ada dokter saraf, korban lalu dibawa ke rumah sakit Latumeten yang disitulah korban mengalami kejang-kejang dan tisak sadarkan diri.
”Habis itu ke rumah sakit Sumber Hidup (GPM) tetapi karena tidak ada dokter saraf di rumah sakit tersebut, keluarga saya membawa lari ke rumah sakit II Latumeten sampai pada akhirnya kejang-kejang dan tidak sadarkan diri, “jelasnya. ***














Komentar