AMBON, BABETO.ID – Terbakarnya salah satu perangkat KM Tatamailau saat kapal hendak bersandar di Pelabuhan Ambon beberapa hari lalu tidak hanya menyisakan kepanikan penumpang, tetapi juga memunculkan pertanyaan publik mengenai kondisi armada PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI).
Peristiwa tersebut kembali membuka ruang kritik masyarakat terhadap pelayanan dan pembaruan kapal yang digunakan untuk melayani mobilitas penumpang antarpulau.
Babeto.Id pada Rabu (4/11/2026),mendapat komentar dari sejumlah netizen menyampaikan beragam komentar pada unggahan Babeto.Id yang dipublikasikan beberapa hari sebelumnya mengenai insiden terbakarnya perangkat KM Tatamailau.
Akun Sofia secara tegas menuliskan, “sdh tdk layak tuk berlayar”.
Sementara akun Hariz menyinggung usia kapal dengan komentar, “Kapal tua dri jamannya pa suharto.”
Pertanyaan mengenai usia operasional kapal juga disampaikan akun bas_one.
“KAPAL INI SO BRAPA TAHUN BALAYAR ??” tulisnya.
Kritik lebih jauh datang dari akun slowly_ yang mempertanyakan rencana pengadaan armada baru oleh PELNI.
“Maklumlah…..semua kapal Pelni kan dari jaman pak presiden Suharto, apa nggak ada niat ya untuk pengadaan armada baru,” tulisnya.
Keluhan lainnya datang dari akun Ram yang menulis, “Macam kapal ini banyak kendla ka.”
Sedangkan akun hangingtam menyoroti kenyamanan penumpang dengan komentar, “kapal ini SANGATH PANAS.”
Akun Abang juga menyampaikan harapan agar kapal-kapal yang sudah berusia tua dapat digantikan dengan armada baru demi keselamatan dan kenyamanan penumpang.
“Kapal sudah tua Harus di Gantikan kapal yg baru biar lebih sefty untuk kenyamanan penumpang,” tulisnya.
Rangkaian komentar tersebut memperlihatkan adanya perhatian dan keresahan masyarakat yang perlu dijawab secara serius oleh manajemen PT PELNI.
Insiden terbakarnya perangkat KM Tatamailau semestinya menjadi momentum bagi perusahaan untuk memberikan penjelasan terbuka mengenai penyebab kejadian, kondisi teknis kapal, serta langkah pemeriksaan yang dilakukan setelah insiden.
Publik juga berhak mengetahui bagaimana pemeliharaan armada dijalankan, kapan pemeriksaan teknis terakhir dilakukan, dan bagaimana perusahaan memastikan setiap kapal yang beroperasi memenuhi persyaratan keselamatan pelayaran.
Pertanyaan netizen mengenai kapal yang disebut berasal dari era Presiden Soeharto juga perlu dijawab menggunakan data resmi. Usia kapal memang patut menjadi perhatian, tetapi penilaian kelayakan harus didasarkan pada hasil pemeriksaan teknis dan sertifikasi yang berlaku.
PELNI tidak cukup hanya memastikan jadwal keberangkatan dan kedatangan tetap berjalan. Aspek keselamatan, kenyamanan, serta transparansi pelayanan harus mendapatkan perhatian yang sama.
Masyarakat membutuhkan kepastian bahwa perjalanan laut yang mereka tempuh berlangsung dengan aman. Karena itu, evaluasi armada dan keterbukaan informasi bukan sekadar tuntutan netizen, melainkan bagian penting dari tanggung jawab pelayanan publik.
Hingga berita ini diterbitkan, Babeto.Id belum memperoleh keterangan resmi dari PT PELNI mengenai penyebab terbakarnya perangkat KM Tatamailau, hasil pemeriksaan teknis, maupun tanggapan atas kritik netizen terkait pembaruan armada.
Babeto.Id membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi PT PELNI agar persoalan ini dapat dijelaskan secara berimbang kepada masyarakat.***














Komentar