AMBON, BABETO.ID – Pemerintah Kota Ambon terus memperkuat upaya mitigasi bencana di kawasan pesisir dengan mengoperasikan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) banjir dan tsunami di kawasan Galala dan Hative Kecil.
Sistem tersebut resmi dioperasikan pada Sabtu (5/9/2026) sebagai bagian dari langkah pemerintah untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana.
Pemasangan EWS difokuskan pada kawasan sepanjang aliran Sungai Hative Kecil yang mencakup sedikitnya 13 RT. Wilayah tersebut memiliki risiko banjir, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi bersamaan dengan kondisi air laut yang sedang pasang.
Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, mengatakan penguatan sistem peringatan dini tersebut tidak terlepas dari pengalaman bencana yang pernah terjadi di kawasan pesisir Ambon.
Salah satu peristiwa yang menjadi pengingat adalah tsunami besar yang terjadi pada 1950 dan kemudian dikenal dalam lagu daerah “Banjir Galala”.
“Kisah dan lagu itu bukan sekadar warisan budaya, tetapi cara kita untuk terus merawat ingatan dan kewaspadaan warga. Bencana mungkin tidak bisa dicegah, tapi dampaknya bisa kita tekan melalui sistem peringatan dini yang responsif,” ujar Bodewin.
Pengadaan dan pengoperasian teknologi EWS tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Negeri Hative Kecil dengan akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), peneliti dari Jepang serta sejumlah pegiat lingkungan.
Raja Negeri Hative Kecil, Josias Johan Muriany, menekankan bahwa keberadaan perangkat peringatan dini harus diikuti dengan kesiapan masyarakat dalam merespons setiap tanda bahaya.
“Begitu indikator alat menunjukkan warna oranye, itu sinyal tegas agar warga segera bersiap evakuasi. Jangan menunggu debit air makin tinggi. Kecepatan tindakan warga adalah kunci keselamatan,” tegas Josias.
Pemerintah Negeri Hative Kecil selanjutnya menggandeng unsur gereja dan relawan kebencanaan untuk memperluas edukasi kepada masyarakat mengenai jalur serta tata cara evakuasi mandiri.
Penguatan sistem peringatan dini ini sekaligus melengkapi status kawasan Galala dan Hative Kecil yang sebelumnya telah mendapatkan pengakuan melalui UNESCO-IOC Tsunami Ready Recognition Program bersama BMKG.***









Komentar