oleh

Maluku Coffee Week Satukan Pelaku Kopi, Angkat Liberika Seram hingga Robusta Buru

-Berita, Ekonomi-16 Dilihat

AMBON, BABETO.ID – Maluku Coffee Week (MCW) dijadwalkan berlangsung pada 6–8 November 2026 untuk memperkenalkan potensi kopi lokal sekaligus memperkuat kolaborasi antara petani, pemilik kedai, barista, dan komunitas kopi di Maluku.

Show Director Maluku Coffee Week, Otham Amir, di Ambon, Minggu (26/10/2026), mengatakan kegiatan tersebut merupakan hasil proses panjang dalam menelusuri potensi kopi dan tradisi minum kopi yang berkembang di berbagai wilayah Maluku.

Menurut Otham, Maluku tidak hanya kaya akan rempah-rempah, tetapi juga memiliki sejarah, varietas, dan budaya kopi yang berpotensi menjadi identitas tersendiri.

Namun, potensi tersebut dinilai belum banyak mendapat perhatian dibandingkan kopi dari sejumlah daerah lain di Indonesia.

Ia berharap Maluku Coffee Week menjadi langkah awal untuk memperluas pengenalan kopi Maluku, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Otham menjelaskan, salah satu tantangan pengembangan industri kopi di Maluku adalah belum optimalnya komunikasi dan kerja sama di antara para pelaku usaha.

Karena itu, penyelenggaraan perdana MCW lebih difokuskan pada upaya mempertemukan pelaku kopi, membangun jejaring, dan menyatukan gagasan untuk pengembangan industri kopi daerah.

Sementara itu, Project Manager Maluku Coffee Week, Rifandi Ichsan, mengatakan kegiatan tersebut mengangkat empat elemen utama, yakni literasi, kebudayaan, musik, dan lingkungan.

Perpaduan unsur tersebut diharapkan dapat memperkenalkan kopi lokal melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

MCW juga akan menghadirkan tiga kategori, yaitu kopi tradisional, kopi modern, dan coffee street.

Selain menjadi ruang pertemuan bagi pelaku industri, kegiatan ini akan memperkenalkan sejumlah varietas kopi Maluku, termasuk kopi liberika dari Pulau Seram dan robusta dari Namsina, Pulau Buru.

Meski memiliki potensi yang beragam, pengembangan kopi Maluku masih menghadapi tantangan, terutama dalam proses produksi dan pengolahan.

Sebagian petani masih mengandalkan metode tradisional dan belum terbiasa menggunakan mesin untuk membantu menjaga kualitas hasil produksi.

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan ekosistem kopi yang menghubungkan petani, barista, pemilik kedai, komunitas, dan pelaku industri lainnya.

Promosi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas produksi agar kopi Maluku mampu berkembang secara berkelanjutan.

Upaya pengembangan kopi juga telah dilakukan melalui penanaman di sejumlah wilayah, termasuk kawasan kaki Gunung Banda dan beberapa lokasi di Seram Bagian Timur.

Melalui Maluku Coffee Week, penyelenggara berharap masyarakat semakin mengenal dan mencintai kopi lokal. Kegiatan ini juga diharapkan mendorong kunjungan ke kedai kopi serta memperkuat dukungan terhadap petani dan pelaku usaha kopi di Maluku.***

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *