MANIPA, BABETO.ID – Menjelang waktu berbuka puasa, warga memadati Masjid Arrahman, Negeri Tumalehu Barat, Kecamatan Kepulauan Manipa, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku, Rabu (18/2/2026).
Sejak sore hari, masyarakat mulai berdatangan ke masjid untuk menunggu waktu berbuka.
Sebagian warga terlihat duduk di serambi dan pelataran masjid, sementara lainnya berdiri berkelompok di halaman, saling bercengkerama sambil menanti tanda waktu magrib tiba.
Anak-anak hingga orang tua turut meramaikan suasana dengan membawa takjil untuk disantap bersama.
Tradisi “Poa” kembali menggema menjelang beduk ditabuh. Seruan khas tersebut menjadi penanda turun-temurun bagi masyarakat Tumalehu Barat bahwa waktu berbuka segera tiba.
Poa bukan sekadar panggilan, tetapi simbol identitas dan warisan budaya leluhur yang terus dijaga hingga kini.
Seorang pemuda setempat, Abul Hamid Nusahuhu, mengatakan tradisi Poa memiliki makna kebersamaan yang kuat di tengah masyarakat.
“Poa ini sudah ada dari orang tua-tua dulu. Kalau dengar panggilan itu, rasanya beda. Bukan cuma tanda mau buka puasa, tapi juga bikin kita merasa satu kampung, satu kebersamaan,” ujarnya.
Menurutnya, meski saat ini penanda waktu berbuka dapat diketahui melalui pengeras suara dan jadwal resmi, masyarakat tetap mempertahankan Poa sebagai bagian dari ciri khas Negeri Tumalehu Barat.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal masyarakat Kepulauan Manipa tetap hidup dan menyatu dengan praktik keagamaan, memperkaya nuansa Ramadan di Maluku.***














Komentar