Oleh : Rimbo Bugis (Ketua Wilayah Pemuda Muhammadiyah Maluku)
AMBON, BABETO.ID – Bicara tentang Partai Komunis Indonesia (PKI), masyarakat Indonesia masih kerap mengaitkannya dengan sejarah kelam masa lalu. Karena itu, pembahasan mengenai PKI sering kali menjadi sensitif, termasuk ketika dikaitkan dengan tokoh-tokoh Islam dan organisasi Muhammadiyah.
Namun sejarah tidak selalu hitam dan putih. Ada tokoh pergerakan Islam pada awal abad ke-20 yang memiliki pemikiran revolusioner, bersentuhan dengan gagasan sosialisme dan komunisme, tetapi pada saat yang sama tetap menjadikan Islam sebagai dasar perjuangannya.
Salah satu tokoh tersebut adalah Haji Misbach, atau Haji Muhammad Misbach, yang dikenal dengan julukan “Haji Merah”.
Haji Misbach merupakan tokoh pergerakan asal Surakarta yang dikenal keras dalam melawan kolonialisme dan ketidakadilan. Ia pernah memiliki kedekatan dengan lingkungan Muhammadiyah dan tokoh-tokohnya, termasuk KH Ahmad Dahlan dan Haji Fachrodin.
Namun, dalam perjalanan pemikirannya, Haji Misbach kemudian mengambil jalan yang berbeda. Ia dikenal sebagai tokoh Islam yang menggabungkan gagasan perjuangan sosial dengan pemikiran kiri dan kemudian aktif dalam gerakan komunis.
Buku “Muhammadiyah Kiri: Haji Misbach yang Terlupakan dan Tersingkir” karya Syifaul Arifin menggambarkan kompleksitas sosok tersebut. Buku yang diterbitkan UAD Press itu menempatkan Haji Misbach sebagai figur penting untuk membaca kembali dinamika pemikiran dan pergerakan Islam pada masa awal abad ke-20.
Karena itu, menyebut Haji Misbach sebagai “kader Muhammadiyah yang menjadi kader PKI” membutuhkan kehati-hatian. Sejumlah catatan sejarah justru menyebut ia tidak tercatat sebagai anggota resmi Muhammadiyah dan pada satu fase bahkan berseberangan dengan organisasi tersebut.
Yang menarik adalah jejak pemikirannya kemudian dikaitkan dengan tumbuhnya Muhammadiyah di Ambon.
Dari Manokwari ke Ambon
Haji Misbach diasingkan pemerintah kolonial Belanda ke Manokwari. Selama berada di tempat pengasingan, ia diketahui menjalin komunikasi dengan Haji Mohammad Abu Kasim, pemilik Firma Abdullah Lie yang melayani pengiriman barang antara Ambon dan Manokwari.
Korespondensi tersebut pada awalnya berkaitan dengan kebutuhan Haji Misbach selama berada di pengasingan. Namun komunikasi itu kemudian berkembang menjadi pembicaraan mengenai Islam dan gagasan pendirian Muhammadiyah di Ambon.
Salah satu sumber sejarah yang ditulis Suara Muhammadiyah menyebut, dari komunikasi antara Haji Misbach dan Haji Mohammad Abu Kasim kemudian muncul gagasan untuk merintis gerakan Muhammadiyah di Ambon.
Haji Misbach bahkan disebut memesan buku dan majalah Islam, termasuk Suara Muhammadiyah. Bacaan tersebut kemudian turut memperkenalkan pemikiran Muhammadiyah kepada Haji Mohammad Abu Kasim.
Dari sinilah muncul mata rantai sejarah yang menarik.
Haji Mohammad Abu Kasim kemudian mengajak Auw Yong Koan, seorang Muslim keturunan Tionghoa, serta Abdurrahman Didin, seorang perawat Rumah Sakit Militer di Ambon. Ketiganya kemudian dikenal sebagai tokoh perintis awal Muhammadiyah di Ambon.
Dengan demikian, Haji Misbach tidak dapat disebut sebagai orang yang secara langsung mendirikan Muhammadiyah di Maluku. Tetapi jejak korespondensi dan gagasan yang muncul selama ia berada di Manokwari menjadi bagian dari narasi sejarah yang menghubungkan dirinya dengan proses awal tumbuhnya Muhammadiyah di Ambon.
Sejarah yang Perlu Dibaca Kembali
Kisah Haji Misbach menunjukkan bahwa sejarah pergerakan Islam Indonesia jauh lebih kompleks daripada sekadar pembagian antara kelompok “kanan” dan “kiri”.
Ia merupakan seorang muslim yang memiliki pandangan sosial dan politik yang radikal pada zamannya. Ia melihat perjuangan melawan kolonialisme dan pembelaan terhadap rakyat kecil sebagai bagian penting dari perjuangan keislaman.
Di sisi lain, perjalanan politiknya membuatnya berseberangan dengan sebagian tokoh dan organisasi Islam, termasuk Muhammadiyah.
Karena itu, kisah Haji Misbach lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari sejarah pergulatan pemikiran umat Islam Indonesia, bukan sebagai bukti bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi komunis.
Justru dari kisah tersebut terlihat bagaimana gagasan, buku, majalah, jaringan perdagangan, hubungan antartokoh dan komunikasi lintas daerah ikut membentuk sejarah Muhammadiyah di Maluku.
Catatan sejarah mengenai hubungan Haji Misbach dengan awal Muhammadiyah Ambon juga pernah dibahas dalam tulisan “Muhammadiyah Maluku: Hasil Penyemaian Kyai Misbach” karya M. Amin Ely yang dimuat di Suara Muhammadiyah. Tulisan tersebut bersumber antara lain dari kesaksian Haji Ismail Abu Kasim, putra Haji Mohammad Abu Kasim.
Maka, membaca kembali Haji Misbach bukan berarti menghidupkan kembali PKI ataupun membawa ideologi komunisme ke dalam Muhammadiyah.
Sebaliknya, sejarah tersebut dapat menjadi ruang untuk memahami bagaimana para tokoh Islam pada masa kolonial berhadapan dengan persoalan kemiskinan, ketidakadilan, kolonialisme dan perubahan sosial.
Di Maluku, jejak itu menjadi semakin menarik karena gagasan Muhammadiyah berkembang melalui jaringan Ambon-Manokwari dan peran sejumlah tokoh lokal.
Sejarah seperti ini layak dibaca secara kritis, terbuka dan berdasarkan sumber, bukan sekadar diwariskan sebagai label “merah”, “kiri”, atau “komunis”.
Sebab, memahami sejarah bukan berarti membenarkan seluruh pemikiran seorang tokoh. Memahami sejarah berarti berani melihat tokoh tersebut secara utuh, termasuk perbedaan, kontroversi dan pengaruhnya terhadap perjalanan masyarakat.***














Komentar