PIRU, BABETO.ID — Situasi sengketa lahan dan aktivitas pengoboran nikel di kawasan Hutan Laala, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat, mulai memanas. Di tengah potensi konflik yang kian terbuka, Keluarga Besar Huamual Indonesia (KBHI) SBB angkat suara.
Ketua DPD KBHI SBB, Fadli Bufakar, secara tegas mengeluarkan peringatan keras kepada pihak luar agar tidak ikut memperkeruh suasana dengan narasi provokatif, terutama di media sosial.
“Jangan ada yang coba-coba memanas-manasi situasi. Apalagi pihak yang tidak berkepentingan langsung. Itu berbahaya dan bisa memicu konflik horizontal,” tegas Fadli.
Pernyataan ini muncul setelah insiden ketegangan antara masyarakat Negeri Luhu dan pemuda Desa Lokki usai aksi damai di lokasi pengoboran PT Manusela Prima Mining (MPM), Senin (6/4/2026).
Menurut Fadli, perbedaan klaim wilayah tidak boleh menjadi alasan rusaknya hubungan persaudaraan yang telah terjalin turun-temurun di tanah Huamual.
“Ini bukan sekadar soal lahan, ini soal persaudaraan. Jangan sampai konflik kepentingan merusak hubungan orang basudara yang sudah dibangun sejak leluhur,” katanya.
KBHI juga menyoroti derasnya arus informasi liar di media sosial yang dinilai memperkeruh keadaan. Ia menilai, narasi-narasi yang tidak berdasar justru memperbesar potensi benturan antar warga.
“Kami ingatkan, jangan produksi opini yang menyesatkan. Jangan pancing emosi publik. Masalah ini harus diselesaikan dengan kepala dingin, bukan provokasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, KBHI mendesak Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat untuk segera turun tangan sebagai mediator netral guna mencegah konflik meluas.
“Pemerintah harus hadir. Fasilitasi dialog terbuka, duduk bersama, bongkar data sejarah, peta wilayah, dan dasar hukum. Jangan dibiarkan liar di lapangan,” tandasnya.
Sebelumnya, sekitar 50 orang perwakilan Negeri Luhu yang dipimpin Raja dan tokoh adat melakukan aksi damai di lokasi pengoboran. Mereka memasang spanduk yang menegaskan wilayah tersebut sebagai tanah ulayat Negeri Luhu dan menolak aktivitas tambang tanpa izin adat.
Namun, situasi berubah tegang saat rombongan hendak meninggalkan lokasi. Teriakan provokasi memicu aksi saling kejar dengan pemuda Desa Lokki. Beruntung, aparat TNI dan Polri bergerak cepat meredam benturan yang berpotensi meluas.
Tak lama setelah itu, pemuda Lokki kembali ke lokasi dan menurunkan spanduk yang dipasang oleh massa Luhu sebagai bentuk penolakan atas klaim tersebut.
Hingga saat ini, situasi di Huamual terpantau mulai kondusif. Namun, KBHI menegaskan bahwa semua pihak harus menahan diri dan tidak terpancing isu liar demi menjaga stabilitas dan nama baik Bumi Huamual.***












Komentar