oleh

Politik Adaptif Shiraj Fatta, Pesuruh Murad Ismail Kini Masuk Lingkaran Gubernur Hendrik

-Berita, Politik-57 Dilihat

AMBON, BABETO.ID – HUT ke-81 RI tahun 2026 menjadi momen yang memperlihatkan kepiawaian Kepala Kantor Perwakilan Maluku di Jakarta, Shiraj Fatta, dalam memainkan komunikasi politik di tengah perubahan kekuasaan di Maluku.

Fatta yang selama ini dikenal dekat dengan lingkaran mantan Gubernur Maluku Murad Ismail, kini terlihat berhasil membangun kedekatan dengan lingkaran Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa.

Hal tersebut terlihat dari sejumlah foto kebersamaan yang ditebar di media sosial. Fatta tampil bersama mantan Gubernur Murad Ismail dan istrinya, Widya Pratiwi, Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath, Gubernur Hendrik Lewerissa bersama istri, serta sejumlah tokoh lainnya.

Bagi sebagian relawan dan pendukung Gubernur Hendrik, kemunculan Fatta dalam berbagai momen bersama para elite tersebut cukup mengejutkan. Sebab, Fatta sebelumnya lebih dikenal sebagai orang yang berada di sekitar Murad Ismail.

Yang menarik, foto-foto tersebut tidak sekadar menampilkan kebersamaan, tetapi juga disertai tulisan yang seakan memberikan pesan kepada publik tentang pentingnya mengesampingkan ego, membangun persatuan, dan mencontoh hubungan antara Hendrik Lewerissa dengan Murad Ismail.

Dalam perspektif politik, pola seperti ini kerap disebut sebagai politik dua kaki atau politik adaptif. Seorang aktor politik berusaha tetap membangun hubungan dengan berbagai kelompok kekuasaan, terutama ketika terjadi pergantian kepemimpinan.

Politik dua kaki tidak selalu berarti pengkhianatan. Dalam praktiknya, hal tersebut dapat dipahami sebagai strategi menjaga akses, komunikasi dan posisi di tengah perubahan konstelasi politik.

Namun, persoalannya muncul ketika seseorang sebelumnya sangat identik dengan satu kekuatan politik, kemudian terlihat begitu cepat berpindah kedekatan kepada kekuatan yang sedang berkuasa.

Di titik inilah publik dapat melihatnya sebagai perilaku politik pragmatis atau bahkan politik kutu loncat.

Fatta seolah ingin menunjukkan bahwa perbedaan masa lalu tidak harus menjadi penghalang untuk membangun hubungan pada masa kini. Pesan tersebut bisa saja dimaknai sebagai ajakan untuk menurunkan ego demi kepentingan Maluku.

Tetapi dalam politik, publik tentu memiliki hak untuk menilai apakah langkah tersebut merupakan bentuk kedewasaan politik demi persatuan atau strategi mempertahankan posisi di tengah perubahan kekuasaan.

Foto bersama dapat menjadi simbol rekonsiliasi. Namun, rekonsiliasi politik idealnya tidak berhenti pada foto dan narasi, melainkan terlihat dalam sikap, konsistensi dan kontribusi nyata bagi kepentingan masyarakat Maluku.

Karena itu, politik dua kaki Shiraj Fatta menjadi menarik untuk dibaca bukan hanya dari siapa yang berdiri di sampingnya dalam sebuah foto, tetapi juga dari bagaimana ia menempatkan dirinya di antara kekuatan politik lama dan kekuatan politik yang sedang memimpin Maluku saat ini.***

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *