SORONG, BABETO.ID – Meski dihadapkan pada keterbatasan air dan tanah yang mengering tak mengubah semangat Kelompok Tani Tinar Buko, SP-3 Makbusun Mayamuk, Kabupaten Sorong.
Pasalnya, musim kemarau panjang disertai dampak El Nino sempat membayangi para petani menjelang musim tanam.
Akan tetapi, ketekunan para petani berbuah manis. Panen padi musim ini justru tercatat maksimal dan membanggakan.
Keberhasilan tersebut mendapat sorotan positif dari akademisi, penyuluh lapangan, hingga pemerintah daerah.
Seluruh pihak sepakat bahwa ketahanan petani menghadapi tantangan iklim harus diimbangi dengan solusi nyata, terutama penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern serta infrastruktur pengairan yang berkelanjutan.
Dukungan dan apresiasi datang dari akademisi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sorong (Unamin), Dr. Ajang Maruapey, SP., MP. Ia menyampaikan bahwa keterlibatannya bersama tim peneliti dan mahasiswa bimbingan dalam mendampingi petani merupakan bentuk nyata pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yang berkolaborasi dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP).
”Memasuki musim tanam kali ini, banyak petani sempat ragu apakah tanaman padi bisa tumbuh hingga panen akibat dampak kemarau dan El-Nino. Namun berkat ketabahan serta kerja keras luar biasa dari seluruh petani, hasil yang diperoleh saat ini sangat maksimal dan membanggakan,”ujar Maruapey.
Maruapey menyoroti kendala teknis di lapangan, di mana petani Tinar Buko selama ini masih memanen secara manual bahkan terpaksa meminjam mesin dari kelompok lain demi menyelamatkan hasil panen dari ancaman cuaca.
Oleh karena itu, pria yang akrab dispa Dr. Amar itu mendukung penuh penyediaan alsintan yang memadai, khususnya mesin pemanen padi tipe combine harvester, agar petani tidak lagi bergantung pada pinjaman dan bisa panen secara cepat serta efisien.
Amar juga menambahkan bahwa perbaikan saluran irigasi sangat krusial guna mendukung program strategis nasional pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan.
Senada dengan hal tersebut, Kepala BPP Makbusun Mayamuk, Jonetji Adela Naa, SP., SST., MMA. membeberkan realita tantangan pengairan di lapangan. Meski pemerintah telah membantu lewat pembuatan sumur bor, panas ekstrem tetap membuat sumber air menyusut.
”Hasil panen kali ini memang luar biasa, namun kita harus jujur bahwa kendala terbesar tetaplah air. Ke depan, kami sangat berharap pemerintah daerah lebih giat membangun sumber air yang lebih besar, lebih dalam, dan tahan lama agar saat kemarau tiba petani tidak lagi krisis air,” Ungkap Jonetji.
Selain masalah pengairan, Jonetji juga mendorong percepatan penggunaan mesin pertanian berkapasitas besar.
Menurutnya, dengan alat yang memadai, proses panen bisa berjalan lebih cepat sebelum hasil pertanian rusak oleh cuaca. Waktu yang dihemat juga memberi kesempatan bagi petani untuk menjalankan usaha lain demi menambah penghasilan keluarga.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja (Katimker) Dinas Pertanian Kabupaten Sorong, Srikiki Rahayu, SP., M.Si. menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kegigihan para petani yang tetap berproduksi di tengah cuaca ekstrem.
”Atas nama jajaran tim kerja, saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh petani. Di tengah cuaca yang sangat panas dan kemarau panjang, kalian tetap bersemangat menanam padi hingga meraih hasil yang sungguh luar biasa. Semoga semangat ini terus terjaga,” tutur Srikiki.
Srikiki menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mengawal keberlanjutan sektor pertanian di Kabupaten Sorong melalui kerja sama lintas sektor, terutama dalam hal pembangunan saluran irigasi dan pemanfaatan aliran sungai untuk pengairan sawah agar ketahanan pangan serta kesejahteraan petani semakin terjamin di tengah cuaca yang tidak menentu.
”Panen raya di Kelompok Tani Tinar Buko ini menjadi bukti konkret bahwa sinergi antara akademisi, penyuluh, pemerintah, dan petani mampu menjawab tantangan perubahan iklim. Ke depan, penguatan infrastruktur pengairan yang permanen serta penyediaan combine harvester diharapkan dapat segera diwujudkan agar para petani di Kabupaten Sorong dapat bercocok tanam dengan optimisme tinggi demi menjaga kedaulatan pangan daerah, “tandasnya. ***














Komentar