ARGENTINA, BABETO.ID – Siapa sangka, sosok Lionel Messi yang kini dielu-elukan sebagai legenda terbesar sepak bola Argentina, pernah mengalami masa-masa paling sulit dalam kariernya bersama Tim Nasional Argentina.
Bahkan, ia sempat memutuskan pensiun dari tim nasional karena merasa gagal memenuhi harapan rakyat Argentina.
Dilansir pada Rabu (15/7/2026) dari akun TikTok sisiduablas, Messi dahulu sering menjadi sasaran kritik tajam dari sebagian pendukung Argentina.
Kini, setelah mempersembahkan berbagai gelar bergengsi, ia justru dipuja layaknya pahlawan nasional dan dianggap sebagai pemain terbaik sepanjang sejarah Argentina.
Perjalanan Messi bersama Timnas Argentina dimulai pada 2005. Sejak saat itu, ia menjadi tumpuan utama Albiceleste dalam berbagai turnamen internasional.
Namun, meski tampil luar biasa di level klub bersama Barcelona, Messi selalu gagal membawa Argentina meraih gelar dalam waktu yang lama.
Argentina tercatat kalah pada final Copa América 2007 dari Brasil, kemudian kalah di final Piala Dunia 2014 dari Jerman lewat gol Mario Götze pada babak perpanjangan waktu.
Setelah itu, Argentina kembali menelan dua kekalahan beruntun di final Copa América 2015 dan Copa América Centenario 2016 dari Chile, yang keduanya berakhir melalui adu penalti.
Puncak kekecewaan terjadi pada 26 Juni 2016 setelah Argentina kalah dari Chile pada final Copa América Centenario di Amerika Serikat. Dalam pertandingan tersebut, Messi bahkan gagal mengeksekusi penalti.
Usai pertandingan, Messi membuat pernyataan mengejutkan.
“Bagi saya, tim nasional sudah berakhir. Saya sudah melakukan semua yang saya bisa dan sangat menyakitkan tidak bisa menjadi juara.”
Pernyataan itu membuat dunia sepak bola terguncang. Ribuan warga Argentina langsung menggelar berbagai aksi untuk meminta Messi membatalkan keputusannya.
Tagar #NoTeVayasLio (Jangan Pergi, Leo) menjadi viral di media sosial. Presiden Argentina saat itu, Mauricio Macri, juga menghubungi Messi dan memintanya tetap membela negaranya.
Legenda sepak bola Argentina, Diego Maradona, turut meminta Messi tetap bersama Timnas.
Berbagai mantan pemain, pelatih, hingga masyarakat memberikan dukungan moral agar Messi tidak mengakhiri karier internasionalnya.
Sekitar satu setengah bulan kemudian, tepatnya Agustus 2016, Messi mengumumkan kembali memperkuat Tim Nasional Argentina.
Ia mengaku masih memiliki kecintaan yang sangat besar terhadap negaranya dan ingin terus berjuang bersama Albiceleste.
Keputusan itu menjadi titik balik sejarah sepak bola Argentina.
Di bawah pelatih Lionel Scaloni, Argentina akhirnya mengakhiri puasa gelar selama 28 tahun dengan menjuarai Copa América 2021 setelah mengalahkan Brasil 1-0 di Stadion Maracanã. Gelar tersebut menjadi trofi senior pertama Messi bersama negaranya.
Kesuksesan itu berlanjut ketika Argentina menjuarai Finalissima 2022 dengan mengalahkan Italia 3-0 di Stadion Wembley.
Puncaknya terjadi pada Piala Dunia FIFA 2022 di Qatar. Messi tampil luar biasa dengan mencetak tujuh gol dan tiga assist sepanjang turnamen.
Ia membawa Argentina menembus final dan mengalahkan Prancis melalui adu penalti setelah bermain imbang 3-3 hingga babak tambahan waktu.
Messi juga dinobatkan sebagai pemain terbaik Piala Dunia 2022 dan akhirnya melengkapi seluruh pencapaian yang selama bertahun-tahun dianggap belum sempurna.
Setelah keberhasilan tersebut, pandangan masyarakat Argentina berubah total. Sosok yang dahulu sering dibanding-bandingkan dengan Diego Maradona kini justru disejajarkan, bahkan oleh sebagian kalangan dianggap telah melampaui legenda tersebut berkat koleksi prestasi bersama klub dan tim nasional.
Selain menjuarai Copa América 2021, Finalissima 2022, dan Piala Dunia 2022, Messi kembali membawa Argentina mempertahankan gelar Copa América pada 2024.
Kesuksesan tersebut semakin mengukuhkan statusnya sebagai ikon terbesar dalam sejarah sepak bola Argentina.
Perjalanan Lionel Messi menjadi bukti bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Dari sosok yang pernah dicemooh dan memutuskan pensiun karena kecewa, Messi bangkit dan menuliskan sejarah sebagai pemain yang membawa Argentina kembali berjaya di pentas dunia.***














Komentar