oleh

Krisis Listrik di Manipa dan Wilayah 3T Maluku, Warga Desak Solusi Nyata dari PLN

SBB, BABETO.ID – Krisis listrik masih menjadi persoalan serius bagi masyarakat di Kecamatan Kepulauan Manipa dan sejumlah wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) di Kabupaten Seram Bagian Barat.

Meski layanan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah hadir selama puluhan tahun, warga masih menghadapi pemadaman listrik yang kerap terjadi dan berlangsung lama.

Mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pulau Manipa (HMPM) Wandri Makassar, mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung lebih dari lima tahun tanpa solusi yang jelas.

Wandri yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Hikmah, Politik, dan Kebijakan Publik Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Maluku menyebut pemadaman listrik di Manipa sering terjadi selama berjam-jam bahkan hingga berhari-hari.

“Kadang listrik padam beberapa jam, bahkan sampai dua hari. Ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan masyarakat semakin resah,” ujarnya.

Selain pemadaman listrik, kondisi jaringan kelistrikan di sejumlah wilayah Manipa juga dinilai memprihatinkan. Banyak tiang listrik yang sudah miring, bahkan ada yang berada di wilayah pesisir sehingga terus terpapar air laut.

Seorang warga Manipa yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa beberapa tiang listrik bahkan mulai lapuk dan terendam air asin.

“Di beberapa lokasi seperti wilayah Uwe dan sepanjang jalur menuju Walmakan, ada tiang listrik yang sudah berada di air laut. Ada juga yang mulai keropos. Kabel listrik bahkan ada yang menggantung rendah hingga setinggi leher manusia,” ungkapnya.

Menurut warga, kondisi tersebut sangat berbahaya dan berpotensi menimbulkan kecelakaan listrik.

Warga mengaku telah berulang kali menyampaikan keluhan kepada pihak PLN. Namun alasan yang diberikan hampir selalu sama, mulai dari kerusakan mesin, kabel rusak hingga ranting pohon yang menyentuh jaringan listrik.

“Sudah berkali-kali kami dengar alasan yang sama. Mesin rusak, kabel putus atau pohon tumbang. Tapi sampai sekarang tidak ada solusi permanen,” kata Wandri.

Menurutnya, permasalahan tersebut semakin sulit ditangani karena kondisi geografis Manipa yang cukup ekstrem serta keterbatasan akses transportasi.

Petugas PLN sering harus menggunakan perahu kecil untuk memeriksa jaringan listrik yang mengalami gangguan di beberapa dusun.

“Kalau ada gangguan pada malam hari, petugas sering harus menunggu pagi karena tidak ada akses jalan untuk melacak kerusakan jaringan,” jelasnya.

Untuk mengatasi krisis listrik yang terus berulang, warga Manipa mengusulkan agar PLN Wilayah Maluku membangun tambahan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

Mereka mengusulkan pembangunan dua unit PLTD untuk melayani dua wilayah berbeda di Manipa.

“Solusi paling realistis menurut kami adalah membangun dua PLTD, satu di Manipa Barat dan satu lagi di Manipa Timur. Kondisi geografis Manipa sangat luas dan ekstrem sehingga satu pembangkit saja tidak cukup,” ujar salah satu warga.

Selain itu, warga juga meminta agar jaringan listrik di daerah rawan gangguan diganti menggunakan kabel berisolasi atau yang dikenal masyarakat sebagai “kabel bungkus”.

Menurut warga, kabel tersebut lebih tahan terhadap gangguan dari pohon kelapa, pohon sagu maupun cuaca ekstrem yang sering terjadi di wilayah tersebut.

Wandri juga mengajak para aktivis dan mahasiswa asal Manipa untuk ikut bersuara memperjuangkan hak masyarakat terhadap pelayanan listrik yang layak.

“Banyak orang Manipa yang hebat dan aktif di berbagai organisasi, termasuk mahasiswa. Kami berharap mereka juga ikut menyuarakan persoalan ini karena ini menyangkut kepentingan masyarakat luas,” katanya.

Krisis listrik ini juga menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat menjelang perayaan Idul Fitri.

Warga berharap pemadaman listrik tidak terjadi pada malam takbiran maupun saat sahur di bulan Ramadan.

“Jangan sampai saat sahur atau malam takbiran listrik kembali padam. Kami sudah terlalu sering mengalami hal seperti itu,” ujarnya.

Wandri menegaskan masyarakat Manipa tidak lagi ingin hanya menerima janji tanpa tindakan nyata.

“Kami sudah terlalu lama menunggu. Yang kami butuhkan sekarang adalah solusi nyata, bukan janji yang terus berulang,” tutupnya.***

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *