oleh

Kepala SMK 3 Ambon Akui Guru Pernah Terima Sisa MBG Siswa

AMBON, BABETO.ID – Kepala SMK Negeri 3 Ambon, Nurfiah Sopaheluwakan, mengakui bahwa dalam kondisi tertentu guru pernah menerima sisa makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperuntukkan bagi siswa.

“Kalau ada kelebihan banyak, maka dibagi juga ke guru-guru. Dan itu terjadi juga di sekolah lain. Itupun kalau guru-guru mau,” ujar Nurfiah saat merespons pertanyaan redaksi melalui pesan WhatsApp, Sabtu (24/1/2026).

Menurutnya, selama ini pihak sekolah tidak pernah menerima keluhan dari orang tua maupun siswa terkait pembagian MBG.

Ia menjelaskan bahwa makanan dibagikan per kelas dan disesuaikan dengan jumlah siswa yang hadir.

“Kalau kelebihan karena siswa tidak hadir, biasanya dikasih ke cleaning service atau satpam,” katanya.

Nurfiah juga menegaskan bahwa pengelolaan MBG di SMK Negeri 3 Ambon tidak melibatkan guru, melainkan ditangani oleh pegawai Tata Usaha.

“Di sekolah, yang kelola MBG itu pegawai Tata Usaha, bukan guru. Guru fokus mengajar saja,” ujarnya.

Terkait adanya informasi dugaan penyalahgunaan MBG, Nurfiah meminta identitas pihak yang menyampaikan keluhan agar dapat ditindaklanjuti secara langsung.

“Beta perlu tahu namanya untuk mendengarkan keluhan secara pribadi. Namanya akan beta rahasiakan,” katanya.

Sebelumnya, Babeto.id memberitakan dugaan penyalahgunaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMK Negeri 3 Ambon oleh oknum guru dan pegawai sekolah.

Informasi tersebut disampaikan oleh sumber internal sekolah yang enggan disebutkan namanya.

Sumber itu mengungkapkan bahwa bukan hanya guru, tetapi juga pegawai sekolah, termasuk Kepala Tata Usaha, diduga pernah membawa pulang sisa makanan MBG.

“Anak-anak di sekolah tahu. Guru juga makan MBG. Bahkan ada pegawai yang pernah bawa pulang,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa makanan MBG hanya dibagikan kepada siswa yang hadir di sekolah. Namun, jumlah makanan yang tersedia disebut tidak selalu sesuai dengan jumlah siswa yang masuk.

“Beta punya anak wali 30 lebih. Tapi kalau yang masuk cuma 12 orang, berarti cuma 12 ompreng yang dikasih. Sisanya itu ke mana?” ujarnya.

Sumber tersebut juga menyoroti kebijakan penutupan pagar sekolah pada pukul 07.30 WIT. Siswa yang datang terlambat tidak diperbolehkan masuk dan otomatis tidak menerima MBG.

Padahal, SMK Negeri 3 Ambon memiliki hampir 40 kelas. Jika di setiap kelas terdapat siswa yang tidak hadir, maka sisa makanan MBG dinilai cukup banyak.

“Dong seng mau kasi ke siswa yang masih ada di sekolah. Lebih pilih bawa pulang untuk pribadi. Ini sangat tidak betul,” tegasnya.

Ia juga menyinggung kondisi ekonomi sebagian siswa yang sangat membutuhkan bantuan dari program MBG.

“Kasihan, ada siswa yang pulang harus cari uang dulu baru bisa makan. Ada yang tinggal di kos, ada yang numpang di orang. Tapi pegawai sekolah malah ambil jatah mereka,” katanya.***

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *