JAKARTA, BABETO.ID – Tradisi Husafara atau Mandi Safar 1448 Hijriah yang digelar Perkumpulan Rumah Hitu di Pantai Lagoon, Ancol, Jakarta, Minggu (9/8/2026), tidak hanya menjadi momentum keagamaan, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam pelestarian adat dan budaya.
Ketua Perkumpulan Rumah Hitu, Faisal Pellu, mengatakan pelaksanaan Husafara tahun ini memberikan ruang lebih besar kepada generasi muda untuk terlibat langsung dalam kepanitiaan maupun pelaksanaan kegiatan.
Menurut Faisal, keterlibatan anak muda menjadi bagian penting dalam proses regenerasi agar tradisi adat tetap terpelihara dan tidak terputus di tengah perkembangan zaman.
“Generasi muda adalah tumpuan masa depan kita. Melalui kepanitiaan acara adat ini, kita ingin memberikan motivasi dan wadah bagi mereka untuk belajar bertanggung jawab menjaga tradisi sekaligus mengasah mental kepemimpinan,” tutur Faisal.
Husafara sendiri memiliki nilai spiritual, budaya dan sosial bagi masyarakat Hitu. Dari sisi keagamaan, tradisi tersebut dimaknai sebagai bagian dari penguatan tauhid dan pembersihan jiwa atau tazkiyatun nafs.
Prosesi mandi di laut yang dilanjutkan dengan doa bersama menjadi simbol penyucian diri sekaligus ikhtiar memohon perlindungan Allah SWT dari berbagai musibah dan bala.
Tradisi tersebut juga menjadi bentuk nyata masyarakat Hitu di perantauan dalam mempertahankan identitas budaya meski berada jauh dari tanah asal.
Ketua Panitia Pelaksana, Rahman Pellu, mengatakan Husafara 1448 H yang dirangkaikan dengan HUT ke-81 RI merupakan ungkapan rasa syukur sekaligus ikhtiar bersama untuk memohon keselamatan bagi masyarakat Maluku di perantauan.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.
Pelaksanaan Husafara berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh keakraban. Selain prosesi adat, kegiatan juga diisi dengan doa keselamatan bersama dan pementasan seni pantun Maluku.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat Hitu di perantauan menunjukkan komitmen untuk terus menjaga tradisi leluhur sekaligus melibatkan generasi muda sebagai penerus kebudayaan Maluku.***














Komentar