AMBON, BABETO.ID — Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Maluku dalam mempercepat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh wilayah Maluku.
Penegasan itu disampaikan saat kegiatan Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Bersama Komunitas di Provinsi Maluku yang berlangsung di Aula Lantai 7 Kantor Gubernur Maluku, Kamis (7/5/2026).
Dalam sambutannya, Lewerissa menyampaikan apresiasi kepada Badan Gizi Nasional dan seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan program MBG di Maluku.
Menurutnya, Program MBG merupakan program strategis nasional yang memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.
“Program MBG bukan hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata melalui keterlibatan tenaga kerja, UMKM, dan pelaku usaha lokal,” kata Lewerissa.
Ia menjelaskan, berdasarkan data terbaru, sebanyak 106 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi di Maluku dari total potensi 192 unit atau mencapai 55,21 persen.
Sementara jumlah siswa penerima manfaat MBG mencapai 222.640 orang dari total potensi 488.994 siswa atau sekitar 45,54 persen.
Untuk kelompok 3B yang meliputi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, penerima manfaat tercatat sebanyak 19.345 orang dari total potensi 67.562 orang atau sekitar 28,63 persen.
Selain itu, program MBG di Maluku juga melibatkan sekitar 14.075 relawan dan tenaga kerja yang turut membuka peluang kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Ini membuktikan bahwa MBG memiliki efek berganda dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal,” ujarnya.
Lewerissa mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam pelaksanaan program tersebut, terutama kondisi geografis Maluku sebagai daerah kepulauan serta keterbatasan akses distribusi hingga wilayah terpencil.
Karena itu, Pemprov Maluku berkomitmen mempercepat pembangunan dan pemerataan SPPG, meningkatkan cakupan penerima manfaat, memperkuat pengawasan mutu dan keamanan pangan, serta mendorong keterlibatan aktif masyarakat dan pelaku usaha lokal.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.
“Kunci keberhasilan program ini adalah kolaborasi. Semua pihak harus bergerak bersama agar manfaat Program MBG benar-benar dirasakan masyarakat Maluku,” tegasnya.
Selain itu, Lewerissa menyoroti pentingnya pemanfaatan pangan lokal Maluku seperti hasil laut, sagu, produk pertanian, dan UMKM daerah sebagai bagian utama rantai pasok MBG.
“Kita ingin pangan lokal Maluku menjadi tulang punggung rantai pasok MBG sehingga program ini sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.***














Komentar