oleh

Dari Klaru untuk Papua: Padi Genjah 80 Hari Hasilkan Panen Tinggi Secara Organik

SORONG, BABETO.ID – Provinsi Papua Barat Daya kembali menunjukan hasil menggembirakan dalam hal inovasi di bidang pertanian.

Pasalnya, Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN) berhasil mengembangkan budidaya padi organik dengan produktivitas tinggi melalui penelitian demplot di Kelurahan Klaru, Distrik Mariat, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.

Penelitian yang dipimpin oleh dosen Fakultas Pertanian ( Faperta) UNAMIN, Dr. Ajang Maruapey, SP., MP., tersebut menguji tiga varietas padi unggul dengan metode organik murni. Hasilnya, ketiga varietas menunjukkan performa yang optimal, baik dari segi produktivitas maupun ketahanan tanaman.

Varietas M70D (super genjah) menjadi yang paling menonjol dengan masa panen relatif singkat, yakni 80 hari, serta menghasilkan 7,95 ton per hektare Gabah Kering Panen (GKP).

Sementara itu, varietas Padjadjaran Agritan dan Cigeulis dipanen pada umur sekitar 100 hari, dengan produktivitas masing-masing sebesar 7,30 ton per hektare dan 6,92 ton per hektare.

Menurut Ajang Maruapey, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari penerapan teknologi budidaya organik yang tepat, salah satunya melalui penggunaan pupuk Superbokashi MA-11. Pupuk ini kata Ajang, merupakan hasil fermentasi jerami padi menggunakan dekomposer Microbacter Alfaafa-11 (MA-11), yang mampu meningkatkan ketersediaan unsur hara, khususnya pada fase pengisian bulir.

Selain itu, Ajang mengungkapkan penerapan sistem tanam Jajar Legowo (Jarwo) 2:1 turut berkontribusi dalam meningkatkan populasi tanaman hingga sekitar 30 persen, sekaligus memperbaiki sirkulasi udara dan distribusi cahaya di lahan pertanian.

“Selama masa budidaya, tanaman juga sempat menghadapi tantangan berupa serangan hama pengerek serta penyakit yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas Oryzae. Namun demikian, gejala serangan berhasil dikendalikan secara efektif melalui pendekatan pertanian organik, sehingga tidak memberikan dampak signifikan terhadap hasil produksi, “ujarnya.

Sementara, Ketua Kelompok Tani Sidodadi,  Saiman,  yang terlibat dalam kegiatan tersebut, menyatakan bahwa varietas berumur pendek memberikan keuntungan bagi petani dalam meningkatkan intensitas tanam serta menekan risiko serangan hama pada akhir musim.

Dengan capaian ini, Saiman menjelaskan Kelurahan Klaru dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan percontohan pertanian organik di Kabupaten Sorong.

“Keberhasilan tersebut juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam menyusun strategi penguatan ketahanan pangan berbasis potensi lokal, “tegasnya. ***

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *