oleh

Blok Masela Telah Dimulai, Kini Saatnya Masyarakat Maluku Menjadi Pelaku Utama

-Berita, Opini-124 Dilihat

JAKARTA, BABETO.ID – Peresmian pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Masela pada 16 Juli 2026 menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah pembangunan Maluku dan Indonesia Timur.

Proyek ini bukan sekadar investasi bernilai ratusan triliun rupiah, tetapi juga momentum untuk memperkuat ketahanan energi nasional, mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia, dan membuka peluang baru bagi masyarakat Maluku.

Sebagai bagian dari generasi muda Maluku, kami di Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Maluku menyampaikan dukungan terhadap percepatan pembangunan Blok Masela.

Namun, dukungan tersebut harus dibarengi dengan komitmen bersama agar manfaat proyek ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat, khususnya masyarakat di Kepulauan Tanimbar dan Maluku secara umum.

Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan bahwa pembangunan Blok Masela harus memberikan dampak bagi masyarakat daerah, termasuk melalui pendampingan kepada pengusaha lokal agar mampu berpartisipasi dalam rantai ekonomi proyek.

Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh mengabaikan hak-hak masyarakat adat dan hak kesulungan masyarakat Tanimbar.

Dua pesan tersebut menjadi fondasi penting bahwa keberhasilan proyek ini tidak hanya diukur dari produksi gas, tetapi juga dari manfaat sosial dan ekonomi yang dihasilkan.

Menurut kami, terdapat tiga agenda besar yang perlu menjadi perhatian bersama.

Pertama, membangun SDM Maluku sejak sekarang. Dunia industri migas membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi tinggi. Karena itu, pemerintah daerah, perguruan tinggi, SMK, dunia usaha, dan organisasi kepemudaan perlu berkolaborasi menyiapkan pelatihan, sertifikasi, dan peningkatan keterampilan agar putra-putri Maluku mampu bersaing secara profesional.

Kedua, memperkuat pengusaha lokal. Peluang terbesar dari Blok Masela tidak hanya berada pada pekerjaan inti migas, tetapi juga pada rantai pasok seperti logistik, katering, transportasi, perikanan, konstruksi, akomodasi, teknologi informasi, hingga berbagai jasa pendukung lainnya. UMKM dan perusahaan lokal harus didampingi agar memenuhi standar industri sehingga mampu menjadi mitra yang kompetitif.

Ketiga, membangun ekosistem kolaborasi. Keberhasilan proyek sebesar ini memerlukan sinergi antara pemerintah, operator proyek, perguruan tinggi, pelaku usaha, organisasi masyarakat, dan masyarakat lokal. Tidak ada satu pihak pun yang dapat bekerja sendiri.

Bagi kami, Blok Masela harus menjadi awal lahirnya generasi baru pengusaha Maluku yang mampu menjadi bagian dari rantai pasok nasional dan global. Kita tidak boleh puas hanya menjadi penonton atau penerima manfaat pasif. Kita harus menjadi pelaku yang menciptakan nilai tambah bagi daerah sendiri.

Sebagai Ketua Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Maluku, saya mengajak seluruh generasi muda Maluku untuk melihat Blok Masela bukan hanya sebagai proyek energi, tetapi sebagai momentum membangun kapasitas diri, memperkuat kewirausahaan, dan menyiapkan masa depan ekonomi Maluku yang lebih mandiri.

Pembangunan telah dimulai. Kini tantangannya adalah memastikan masyarakat Maluku tumbuh bersama pembangunan tersebut. Jika pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat mampu berjalan dalam satu arah, saya optimistis Blok Masela akan dikenang bukan hanya sebagai proyek energi terbesar, tetapi juga sebagai titik lahirnya ekosistem ekonomi baru yang membawa kesejahteraan bagi Maluku.***

Oleh: Irpan Kastella

Ketua Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Maluku

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *