oleh

Menembus Batas Administrasi Demi Kemanusiaan

-Berita, Opini, Sosial-10 Dilihat

Oleh : Kamaruddin Bolat (Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Maluku Bidang Media dan Komunikasi)

AMBON, BABETO.ID – Kemanusiaan tidak cukup hanya dibicarakan. Ia harus hadir ketika masyarakat kehilangan rumah, ketika keluarga membutuhkan pertolongan dan ketika anak-anak harus menghadapi ketakutan akibat konflik.

Patahuwe, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), sedang menghadapi luka. Sebanyak 27 rumah terbakar, sementara 41 kepala keluarga atau 142 jiwa harus mengungsi di Desa Taniwel.

Di balik angka tersebut terdapat keluarga yang kehilangan tempat tinggal, orang tua yang cemas dan anak-anak yang kehilangan rasa aman. Mereka tidak hanya membutuhkan bantuan material, tetapi juga kepastian bahwa masih ada yang peduli.

Dalam situasi seperti itu, kehadiran Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena bersama jajaran Pemerintah Kota Ambon menjadi pesan kemanusiaan yang kuat.

Kehadiran seorang pemimpin di tengah masyarakat yang sedang berduka memiliki makna tersendiri. Ada perhatian yang dirasakan secara langsung dan ada pesan bahwa penderitaan mereka tidak diabaikan.

Puluhan Tokoh Masyarakat SBB, menyampaikan apresiasi atas kepedulian Bodewin Wattimena kepada Konflik yang terjadi di Taniwel, Negeri Patahuwae dan Lisabata

“Dangke banya Kaka Bodewin. Kaka su lia katong pung basudara di Patahuwe yang sedang susah. Ini bukan sekadar bantuan material, melainkan bukti nyata tentang rasa kemanusiaan dan kepedulian mendalam sebagai orang basudara,” ungkap salah satu tokoh SBB.

Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa Pela Gandong bukan sekadar warisan budaya. Nilainya justru terlihat ketika masyarakat menghadapi kesulitan dan membutuhkan dukungan.

Namun perhatian terhadap Patahuwe tidak boleh berhenti setelah bantuan diberikan. Pemulihan membutuhkan proses panjang.

Anak-anak harus kembali bersekolah dengan tenang. Keluarga yang kehilangan tempat tinggal membutuhkan dukungan untuk menata kehidupan, sementara trauma perlu dipulihkan agar pengalaman pahit tidak menjadi beban hingga masa depan.

Pesan Bodewin Wattimena agar masyarakat mengambil hikmah dan melakukan introspeksi menjadi penting. Peristiwa yang telah terjadi harus menjadi pelajaran, bukan alasan untuk mempertahankan kebencian.

Anak-anak tidak boleh mewarisi konflik yang tidak mereka ciptakan. Mereka berhak mendapatkan pendidikan, rasa aman dan masa depan yang lebih baik.

Karena itu, semangat baku kele dan baku keku perlu diwujudkan dalam tindakan nyata: saling merangkul dan saling menopang ketika menghadapi kesulitan.

Di sinilah kepemimpinan diuji. Bukan hanya ketika keadaan normal, tetapi ketika seorang pemimpin mampu hadir dan memberikan penguatan saat masyarakat sedang berada dalam situasi sulit.

Kehadiran Bodewin di Patahuwe membawa pesan sederhana: mereka yang sedang menghadapi musibah tidak boleh merasa sendirian.

Maluku memiliki warisan nilai yang kuat. Tantangannya adalah menjadikan nilai tersebut sebagai tindakan, terutama ketika masyarakat sedang membutuhkan pertolongan.

Patahuwe membutuhkan pemulihan, bukan sekadar perhatian sesaat. Dan pemulihan tidak hanya dibangun dengan material, tetapi juga dengan rasa aman, dukungan dan harapan.

Pada akhirnya, kemanusiaan terlihat dari tindakan ketika orang lain sedang berada dalam kesulitan.

Datang ketika mereka membutuhkan. Bantu ketika mereka kehilangan. Dampingi ketika mereka ingin bangkit. Itulah makna menembus batas administrasi demi kemanusiaan.***

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *