AMBON, BABETO.ID – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi sekaligus memperkuat komitmen gerakan mahasiswa dalam memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.
Sejak berdiri, IMM tidak hanya hadir sebagai organisasi kemahasiswaan biasa. IMM memiliki peran strategis sebagai ruang kaderisasi intelektual yang menanamkan nilai keislaman, keilmuan, dan kemanusiaan.
Dari rahim organisasi ini lahir banyak kader yang berkiprah di berbagai bidang, mulai dari akademisi, politisi, Advokat, dokter, aktivis sosial, hingga pemimpin di ruang-ruang publik.
Di usia yang ke-62, IMM tentu telah melewati berbagai dinamika zaman. Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini juga semakin kompleks, mulai dari persoalan sosial, pendidikan, ekonomi, hingga krisis nilai dalam kehidupan berbangsa.
Dalam situasi seperti ini, kehadiran gerakan mahasiswa yang kritis, progresif, dan solutif menjadi semakin penting.
IMM memiliki tradisi intelektual yang kuat.
Tradisi ini harus terus dijaga dan dikembangkan agar kader-kadernya tidak hanya memiliki kapasitas akademik yang baik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial serta keberanian moral untuk terlibat dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.
Tema “Bergerak dan Berdampak” yang diusung dalam peringatan HUT ke-62 IMM seharusnya tidak berhenti pada slogan semata. Tema tersebut harus dimaknai sebagai panggilan moral bagi seluruh kader untuk menghadirkan aksi nyata.
Gerakan intelektual harus berjalan seiring dengan gerakan sosial, politik bahkan rebut keluasaan yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Kader IMM dituntut untuk mampu hadir di tengah masyarakat, menjadi bagian dari solusi, serta berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
Dengan basis keilmuan yang kuat dan semangat pengabdian yang tinggi, IMM memiliki potensi besar untuk menjadi mitra strategis dalam mendorong perubahan sosial yang lebih adil, beradab, dan berkemajuan.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, IMM juga perlu terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Semangat kritis harus tetap dijaga, tetapi dibarengi dengan sikap konstruktif dan kemampuan menghadirkan gagasan yang solutif.
Pada akhirnya, usia ke-62 bukan sekadar perayaan, tetapi juga pengingat bahwa perjuangan kaderisasi dan pengabdian kepada umat, bangsa, dan negara harus terus dilanjutkan.
IMM harus tetap menjadi gerakan mahasiswa yang tidak hanya kuat secara intelektual, tetapi juga mampu menghadirkan dampak nyata bagi kemajuan Indonesia dan dimulai dari daerah-daerah.***
Oleh : Rimbo Bugis (Ketua Wilayah Pemuda Muhammadiyah Maluku)








Komentar