oleh

Kader Golkar SBT Minta Semua Pihak Tak Saling Klaim Kebenaran soal Kasus Gadis Maluku di Libya

-Berita, Politik-222 Dilihat

SBT, BABETO.ID – Seorang kader Partai Golkar di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) meminta semua pihak agar tidak saling mengklaim kebenaran terkait peristiwa viral gadis Maluku bernama Sariani yang saat ini berada di Libya dan meminta pertolongan untuk dipulangkan ke Indonesia.

Permintaan tersebut muncul setelah Desy Rumaday disebut sebagai sponsor yang memberangkatkan Sariani ke luar negeri. Desy pun memberikan klarifikasi melalui berbagai media sosial, termasuk Facebook.

Dilansir Minggu (8/2/2026), dari grup Facebook Pilar News SBT yang diposting akun @GenuineElephan7218, disebutkan bahwa polemik di ruang publik seharusnya tidak mengabaikan sisi kemanusiaan.

“Seorang kader partai baru berkomentar seperti ini terhadap orang yang sedang butuh pertolongan. Seharusnya menjadi contoh yang baik bagi warga SBT,” tulis akun tersebut.

Akun itu juga mendesak Pemerintah Kabupaten SBT agar segera berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk memulangkan warga SBT yang tengah berada dalam kondisi darurat di luar negeri.

“Kejadian seperti ini sudah sering terjadi. Keterlambatan koordinasi bisa mempertaruhkan nyawa,” lanjutnya.

Sebelumnya, beredar video seorang anak perempuan yang memperkenalkan dirinya sebagai Sariani, warga SBT, yang mengaku sedang berada di Libya dan meminta bantuan untuk dipulangkan ke Tanah Air.

“Sekarang saya di Libya. Saya ingin pulang, tolong bantu saya. Saya dibawa oleh sponsor saya yang bernama Desy Rumaday,” kata Sariani dalam video tersebut.

Ia mengaku dijanjikan akan bekerja di Arab Saudi sebagai pegawai kantor, sehingga orang tuanya memberikan izin keberangkatan.

Namun kenyataannya, Sariani justru dibawa ke Libya oleh pihak yang disebut sebagai sponsor bernama Ibu Tia dan Bapak Muhamad. Ia mengaku mengalami perlakuan tidak manusiawi dari majikannya.

“Saya sedang sakit, saya tidak senang di sini karena saya dipukul oleh majikan saya,” ungkapnya.

Sariani juga menyebut telepon genggamnya disita, dirinya dipukul, lalu dikurung di sebuah gudang.

“Tolong saudara-saudara semua, saya minta tolong. Tolong sebarkan video ini supaya saya bisa dibantu pulang ke Indonesia,” pintanya. ***

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *