oleh

Empati yang Tumpul di Tengah Privilege yang Nyaman

-Opini-8 Dilihat

AMBON, BABETO.ID – Di tengah situasi ekonomi yang semakin menekan dan realitas sosial yang kian keras, satu hal yang justru semakin langka adalah empati. Kita menyaksikan ironi: ketika semakin banyak orang berjuang untuk bertahan hidup, di saat yang sama semakin banyak pula yang memilih untuk tidak peduli.

Ada kelompok yang hidup dalam kenyamanan—tidak pernah dipusingkan oleh tagihan, tidak pernah dihantui biaya hidup, bahkan tidak benar-benar memahami arti bertahan. Hidup mereka masih sepenuhnya ditopang orang tua. Namun dari ruang nyaman itulah, sering lahir sikap paling dingin: meremehkan, menghakimi, bahkan menertawakan kesulitan orang lain.

Ini bukan sekadar soal perbedaan kondisi, tetapi soal kegagalan moral.

Ketika seseorang tidak pernah merasakan sulitnya mencari uang, wajar jika ia tidak sepenuhnya mengerti. Tetapi menjadi tidak peduli adalah pilihan. Dan di situlah masalahnya: empati bukan lagi hilang karena ketidaktahuan, tetapi karena ketidakmauan untuk peduli.

Lingkungan kerja yang tidak sehat, tekanan hidup yang terus meningkat, dan dunia yang sedang tidak baik-baik saja seharusnya menjadi alarm bersama untuk saling menguatkan. Namun yang terjadi justru sebaliknya—banyak orang semakin individualistis, semakin sibuk dengan dunianya sendiri, dan semakin alergi terhadap penderitaan orang lain.

Padahal, empati tidak pernah menuntut kita untuk menyelesaikan masalah orang lain. Empati hanya meminta kita untuk tidak menambah luka. Tidak merendahkan. Tidak mengabaikan. Tidak bersikap seolah hidup semua orang semudah hidup kita.

Kita terlalu sering meremehkan kekuatan hal-hal sederhana. Senyum yang tulus, sapaan yang hangat, atau sekadar sikap menghargai—bagi sebagian orang, itu bisa menjadi alasan untuk tetap bertahan. Bisa menjadi satu-satunya tanda bahwa dunia belum sepenuhnya kehilangan kemanusiaan.

Jika empati terus dibiarkan tumpul, maka yang tersisa hanyalah masyarakat yang dingin—di mana setiap orang berjalan sendiri, tanpa kepedulian, tanpa rasa.

Dan itu jauh lebih berbahaya daripada sekadar kesulitan ekonomi.

Karena krisis empati adalah awal dari runtuhnya kemanusiaan itu sendiri.

Oleh: Maureen Vivian Haumahu (Anggota DPRD Provinsi Maluku)

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *