oleh

IMM Maluku Nilai Flayer Dugaan Intoleransi terhadap Gubernur sebagai Upaya Adu Domba

AMBON, BABETO.ID – Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Maluku menilai beredarnya flayer di media sosial yang menuding Gubernur Maluku sebagai sosok yang tidak toleran merupakan narasi provokatif yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Pimpinan DPD IMM Maluku, Rizki Rumadan, mengatakan informasi dalam flayer tersebut perlu disikapi secara bijak dan tidak langsung dipercaya tanpa melihat fakta secara utuh.

Menurutnya, penyebaran informasi bernuansa provokatif sangat berbahaya bagi stabilitas sosial, terutama di Maluku yang hidup dalam keberagaman agama, budaya, dan tradisi.

Flayer dengan narasi yang menduga gubernur sebagai figur yang tidak toleran patut dicurigai sebagai upaya adu domba.

“Masyarakat Maluku harus tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas sumber serta kebenarannya,” ujar Rizki.

Ia menegaskan, jika melihat berbagai kebijakan dan sikap kepemimpinan selama ini, Gubernur Maluku dikenal terbuka dan menjunjung tinggi nilai toleransi antarumat beragama.

Hal tersebut terlihat dari komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kerukunan, keterlibatan dalam kegiatan lintas agama, serta dukungan terhadap program yang memperkuat persaudaraan dan harmoni sosial di Maluku.

Menurut Rizki, Maluku memiliki sejarah panjang dalam merawat nilai persaudaraan seperti semangat hidup orang basudara dan budaya pela gandong.

Karena itu, setiap narasi yang berpotensi memecah belah masyarakat harus dihadapi dengan sikap dewasa dan penuh tanggung jawab.

DPD IMM Maluku juga mengajak para pemuda, mahasiswa, dan kaum intelektual untuk berperan sebagai penyejuk di tengah masyarakat dengan mengedepankan sikap kritis, rasional, serta meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak berdasar.

Selain itu, IMM Maluku mendorong aparat penegak hukum untuk menelusuri pihak yang diduga menyebarkan flayer provokatif tersebut agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

“Maluku adalah rumah bersama bagi semua umat beragama. Semangat toleransi, persaudaraan, dan persatuan harus terus dijaga agar tidak dirusak oleh narasi yang berpotensi memecah belah masyarakat,” tutup Rizki.***

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *