oleh

Sisa MBG Jadi Ladang Amal, Kepala SMA Negeri 3 Salahutu Tunjukkan Kepemimpinan Berintegritas dan Toleransi

MALTENG, BABETO.ID – Kegiatan pembagian Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SMA Negeri 3 Maluku Tengah menyisakan cerita inspiratif.

Dari total 329 siswa, tercatat 20 siswa tidak hadir, sehingga terdapat sejumlah paket MBG yang tidak tersalurkan kepada penerima utama.

Situasi yang kerap dianggap sepele ini justru dimaknai berbeda oleh Kepala SMA Negeri 3 Maluku Tengah, Jolanda Koda.

Alih-alih memanfaatkan sisa paket untuk kebutuhan internal sekolah, ia memilih langkah yang lebih bernilai: menyalurkan makanan tersebut kepada sebuah pesantren yang membutuhkan.

Keputusan ini mencerminkan kepekaan sosial sekaligus integritas dalam kepemimpinan. Di tengah praktik yang umumnya membolehkan distribusi internal, Jolanda Koda mengambil jalan yang lebih berdampak luas bagi masyarakat.

Yang menarik, Ibu Jolanda Koda diketahui beragama Kristen. Namun di tengah suasana bulan suci Ramadhan, ia justru menunjukkan komitmen kuat dalam merawat nilai toleransi antarumat beragama.

Langkah menyalurkan bantuan ke pesantren menjadi simbol nyata bahwa kepedulian dan kemanusiaan melampaui sekat perbedaan keyakinan.

“Bagi saya, ini bukan soal siapa yang menerima, tetapi bagaimana kita bisa berbagi dengan tulus. Apalagi di bulan Ramadhan, ini momentum yang baik untuk saling peduli dan menjaga kebersamaan,” ujar Jolanda Koda.

Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya tentang kegiatan belajar di ruang kelas, tetapi juga tentang membentuk karakter siswa melalui contoh nyata.

“Kami ingin siswa melihat langsung bahwa nilai kemanusiaan, toleransi, dan empati itu harus dipraktikkan, bukan hanya diajarkan,” tambahnya.

Tindakan ini menjadi semakin bermakna karena dilakukan pada momentum Ramadhan, saat umat Muslim menanamkan nilai keikhlasan dan solidaritas.

Bantuan tersebut bukan sekadar bentuk berbagi, tetapi juga wujud penghormatan terhadap nilai-nilai ibadah yang sedang dijalankan.

Tindakan ini pun mendapat perhatian publik dan menjadi perbincangan luas. Banyak pihak menilai keputusan tersebut sebagai contoh kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada institusi, tetapi juga pada kemanfaatan sosial dan kerukunan antarumat beragama.

Lebih dari sekadar aksi berbagi, kebijakan ini menjadi pembelajaran langsung bagi para siswa. Mereka diajak memahami bahwa kepedulian tidak diukur dari besar kecilnya bantuan, melainkan dari ketulusan dalam memberi, serta pentingnya menjaga toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain memberikan manfaat bagi penerima, langkah ini juga memperkuat citra SMA Negeri 3 Maluku Tengah sebagai lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi nilai moral, kemanusiaan, dan keberagaman.

Di bawah kepemimpinan yang visioner dan beretika, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan yang inklusif dan bermakna.***

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *